Jakarta, CNBC Indonesia - Industri baja nasional tengah menghadapi tekanan berat seiring derasnya arus impor dan ketatnya persaingan harga. Salah satu indikator yang paling terlihat adalah tingkat utilisasi pabrik yang masih berada di kisaran 52%, jauh di bawah kapasitas optimal produksi.
Rendahnya utilisasi ini mencerminkan belum maksimalnya penyerapan produk dalam negeri oleh pasar. Padahal, kapasitas terpasang industri baja Indonesia sebenarnya cukup besar untuk memenuhi kebutuhan nasional di berbagai sektor pembangunan.
"Dalam periode 2024 hingga 2026, tercatat 8 perusahaan baja yang menutup operasional pabriknya, terutama akibat margin usaha yang terus tertekan serta dominasi produk impor murah di pasar domestik," kata Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/2/2026).
Alhasil produk dalam negeri sulit bersaing dengan produk impor murah. Ia mengingatkan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut.
"Tekanan terhadap industri sudah sangat nyata," ujarnya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada produsen baja primer, tetapi juga merambat ke industri hilir, tenaga kerja, hingga rantai pasok bahan baku. Jika tren berlanjut, risiko kehilangan basis industri strategis menjadi semakin besar.
Pelaku industri menilai diperlukan pengendalian impor yang selaras dengan kapasitas produksi domestik. Pendekatan selektif dinilai lebih relevan, yakni impor dilakukan hanya untuk jenis produk yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.
Selain itu, penguatan kebijakan trade remedies dianggap penting untuk menciptakan level persaingan yang lebih adil. Instrumen ini dinilai mampu menjadi penyeimbang ketika terjadi praktik perdagangan yang merugikan industri lokal.
Konsistensi kebijakan energi, termasuk penerapan harga gas bumi tertentu bagi industri, juga menjadi faktor krusial dalam menekan biaya produksi. Struktur biaya energi yang kompetitif dapat membantu produsen lokal memperbaiki margin dan daya saing.
"Kebijakan-kebijakan tersebut bukan ditujukan untuk menutup pasar, melainkan untuk memastikan terciptanya persaingan yang adil, sehat, dan berkelanjutan, sehingga industri baja nasional dapat bertahan dan tumbuh sebagai fondasi penting bagi pembangunan industri dan ekonomi nasional," ujar Harry.
Baja China Serbu Pasar RI
Terpisah, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, utilisasi industri baja nasional rata-rata mencapai 52,7%. Kondisi ini, kata dia, menunjukkan adanya potensi untuk peningkatan kapasitas industri baja nasional dalam pemenuhan konsumsi dalam negeri.
"Namun terdapat tekanan dari produk impor yang dapat menahan laju penyerapan produk baja nasional," kata Faisol dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI bersama mitra di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Di sisi lain, sambungnya, terdapat gap yang cukup besar antara konsumsi baja dan produksi baja nasional.
"Gap ini diisi oleh produk impor. Sekitar 55% dari China," ungkap Faisol.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]


















































