Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
10 March 2026 16:09
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga komoditas energi karena perang antara Iran vs Israel - Amerika Serikat (AS) membuat dunia cemas. Namun, bagi sebagian orang, lonjakan harga ini adalah berkah.
Eskalasi konflik geopolitik antara AS-Israel dan Iran yang berujung pada gangguan keamanan di Selat Hormuz memberikan implikasi yang signifikan terhadap rantai pasok global.
Posisi Selat Hormuz sebagai jalur logistik krusial yang mengakomodasi distribusi energi dan komoditas utama dunia membuat setiap disrupsi di wilayah tersebut secara langsung memicu supply shock atau guncangan pasokan.
Kondisi ketidakpastian ini menciptakan katalis positif berupa lonjakan harga komoditas global.
Bergesernya kurva penawaran akibat hambatan logistik mengerek harga energi, logam mulia, hingga tarif angkutan laut ke level premium. Di pasar modal domestik, situasi ini memberikan keuntungan substansial (windfall profit) bagi emiten-emiten yang beroperasi pada sektor terkait.
Peningkatan margin operasional yang dicatatkan oleh sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara langsung berimbas positif pada valuasi perusahaan yang dikendalikan oleh sejumlah konglomerasi dan Ultimate Beneficial Owner (UBO) terkemuka di Indonesia. Dinamika krisis ini memosisikan mereka sebagai pihak yang menerima keuntungan dari lonjakan harga acuan global.
Merujuk Refinitiv, setelah 10 hari perang Iran vs Israel-AS meletus, harga komoditas yang paling melonjak adalah harga minyak disusul dengan batu bara.
Lonjakan harga minyak bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan Perang Rusia-Ukraina.
Lonjakan harga komoditas ini juga membawa untung bagi perusahaan serta pemiliknya. Dengan harga yang melonjak maka pendapatan perusahaan bisa meningkat.
Di luar komoditas, perang Iran vs Israel-AS juga membawa keuntungan lain bagi komoditas pupuk serta perusahaan yang bergerak di pelayaran.
Harga pupuk urea bahkan sudah melejit 10% lebih setelah perang.
Jika berkaca pada pergerakan harga komoditas serta dampak perang, maka ada beberapa emiten yang diuntungkan, berikut di antaranya:
Analisis Sektoral dan Pergerakan Harga Komoditas
Disrupsi pasokan akibat eskalasi konflik membawa implikasi fundamental yang spesifik pada setiap kelas aset. Berikut adalah rincian mekanisme keuntungan yang diperoleh masing-masing sektor beserta posisi harga acuan komoditas.
Berikut adalah pemetaan holistik mengenai sektor-sektor yang diuntungkan dari disrupsi rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah, merujuk pada pembaruan data emiten dan struktur pengendali utamanya.
Sektor Minyak dan Gas (Migas)
Harga Acuan Saat Ini: Harga minyak mentah Brent melonjak hingga menyentuh level US$ 119 per barel, sementara WTI bergerak di rentang tertinggi US$ 112 akibat tertutupnya Selat Hormuz.
Jalur maritim ini sangat vital karena mengakomodasi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan pada jalur ini menciptakan defisit pasokan global secara instan.
Emiten produsen hulu migas seperti MEDC yang dikendalikan oleh Keluarga Panigoro dan ENRG di bawah kendali Grup Bakrie menjadi penerima manfaat langsung.
Lonjakan harga acuan ini langsung menaikkan Average Selling Price (ASP) perusahaan, memperlebar margin laba tanpa perlu meningkatkan volume produksi yang signifikan.
ELSA juga mendapat dampak turunan positif jika tingginya harga minyak mendorong kontraktor hulu untuk meningkatkan anggaran belanja modal (capex) untuk aktivitas eksplorasi.
Sektor Batu Bara
Harga Acuan Saat Ini: Batu bara acuan Newcastle (ICE) bergerak moderat di kisaran US$ 130 - 140 per ton.
Korelasi sektor batu bara terhadap konflik Timur Tengah bekerja melalui mekanisme substitusi energi. Ketika krisis melambungkan harga minyak bumi di luar batas keekonomian industri, negara-negara manufaktur mengalihkan kebutuhan sumber energi ke batu bara.
Dengan terkoreksinya kembali harga minyak, urgensi substitusi tersebut secara bertahap mulai mereda namun ketidakpastian ini masih menjadi prioritas utama karena substitusi ini menjadi bagian penting ketahanan energi negara-negara.
Peningkatan permintaan substitusi ini menjaga volume penjualan dan margin emiten batu bara. Alamtri Resources Indonesia (ADRO) memiliki efisiensi struktur biaya (cash cost) yang kuat.
Kondisi ini memungkinkan perseroan untuk mencetak free cash flow yang maksimal di tengah tingginya harga komoditas substitusi energi serta tidak dikategorikannya perusahaan ini terhadap peraturan DMO yang baru.
Sektor Aluminium
Harga Acuan Saat Ini: Aluminium acuan London Metal Exchange (LME) menstabil di kisaran US$ 3.300 - 3.400 per ton.
Kawasan Gulf adalah basis peleburan aluminium dunia karena akses terhadap suplai gas alam yang murah. Ketakutan akan blokade maritim sebelumnya memicu aksi borong yang mengerek harga aluminium akibat ekspektasi kelangkaan pasokan.
Deklarasi damai memastikan operasional dan logistik smelter di Timur Tengah berjalan tanpa hambatan. Normalisasi suplai ini menghilangkan premi kelangkaan pada harga aluminium global.
Dampaknya terhadap ADMR (Alamtri Minerals Indonesia) bersifat netral, mengingat fokus utama investor pada emiten ini masih tertuju pada eksekusi jangka panjang penyelesaian fasilitas smelter di Kalimantan Utara, bukan semata pada fluktuasi harga komoditas jangka pendek.
Sektor Emas (Logam Mulia)
Harga Acuan Saat Ini: Harga spot emas (XAU/USD) mengalami konsolidasi di kisaran US$ 5.000 - 5.200 per troy ons setelah reli yang cukup tajam akibat kepanikan global.
Dalam lanskap makroekonomi, emas merupakan instrumen safe haven atau hedging absolut saat ketidakpastian geopolitik memuncak. Skenario eskalasi ini secara otomatis menurunkan selera risiko pasar ke aset-aset yang lebih beresiko menuju aset yang lebih aman.
Meningkatnya risiko global memicu aliran likuiditas masif dari institusi keuangan yang keluar dari aset berisiko menuju pasar logam mulia. Kenaikan harga emas dasar ini secara langsung meningkatkan valuasi aset dan proyeksi profitabilitas emiten tambang emas.
MDKA yang terafiliasi dengan Garibaldi Thohir dan ARCI milik Peter Sondakh mencatatkan lonjakan valuasi seiring dengan tren harga global yang solid. ANTM juga menerima keuntungan ganda dari kenaikan harga acuan global serta tingginya permintaan retail domestik untuk produk logam mulia.
Sektor Minyak Kelapa Sawit (CPO)
Harga Acuan Saat Ini: CPO acuan Bursa Malaysia Derivatives (BMD) berada pada rentang konsolidasi MYR 4.500 - 4.600 per ton.
Dinamika pasar CPO memiliki kaitan erat dengan sektor energi fosil karena perannya sebagai bahan baku utama biodiesel. Ketika harga minyak bumi melambung tinggi, biodiesel menjadi alternatif energi yang sangat kompetitif, sehingga menyerap pasokan CPO dan mendorong harganya naik.
Namun dengan naiknya harga minyak bumi menaikkan kelayakan ekonomis program biodiesel di tingkat global (di luar program mandatori). Hal ini berisiko mengapresiasi permintaan minyak nabati secara keseluruhan.
Emiten seperti LSIP milik Grup Salim dan AALI di bawah Grup Astra mendapat imbas positif langsung dari apresiasi harga spot. TAPG yang dimiliki oleh TP Rachmat dan Keluarga Subianto turut mencatatkan profitabilitas yang terukur melalui optimasi volume panen sejalan dengan tren harga yang tinggi.
Sektor Perkapalan dan Logistik Laut
Harga Acuan Saat Ini: Indeks tarif angkutan maritim (freight rates) dan sewa kapal secara global berangsur turun dari level tertingginya.
Ancaman keamanan logistik maritim memaksa perusahaan pelayaran komersial untuk melakukan pengalihan rute (rerouting) kapal kargo untuk menghindari zona konflik. Pengalihan rute ini memakan waktu tempuh yang jauh lebih panjang, yang berimbas pada terganggunya perputaran armada.
Inefisiensi logistik ini menciptakan kelangkaan ruang kargo secara global dan mengerek tarif angkutan laut (freight rates) secara eksponensial. Momentum kelangkaan ini menjadi katalis utama pendapatan spot bagi emiten perkapalan.
SMDR yang dikendalikan oleh Shanti, Ratna, dan Chandraleika serta TMAS milik Keluarga Harto Khusumo mencatatkan perluasan margin laba bersih akibat lonjakan tarif kontrak pelayaran yang sedang terjadi.
Sektor Petrokimia
Harga Acuan Saat Ini: Amonia global terkoreksi dan mulai menemukan titik ekuilibrium baru di rentang US$ 600 - 700 per ton.
Negara-negara di Timur Tengah menguasai porsi yang sangat determinan terhadap pasokan ekspor pupuk nitrogen dunia. Gangguan pelayaran pada masa krisis membatasi suplai ke pasar internasional, yang langsung direspons dengan lonjakan tajam harga produk petrokimia.
Ditutupnya keran logistik secara penuh berarti jutaan ton pasokan tertahan dari kawasan Teluk akan berhenti memberikan supply kepada pasar global. Hukum ekonomi dasar akan membuat harga naik seiring dengan menipisnya supply saat ini.
Bagi ESSA sebagai produsen amonia dalam negeri yang dikendalikan oleh Garibaldi Thohir dan Chander V.L., hilangnya pasokan dari Timur Tengah di pasar internasional menaikkan daya saing produk perseroan. Lonjakan Average Selling Price memberikan kontribusi langsung pada pertumbuhan laba bersih perusahaan.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google


















































