Cuan Naik Tapi Premi Seret, Ada Apa dengan Industri Asuransi RI?

2 hours ago 1

Achmad Aris,  CNBC Indonesia

13 January 2026 14:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri asuransi Indonesia pada kuartal III/2025 mencatat perbaikan profitabilitas dan kesehatan permodalan tapi dari sisi mesin bisnis yaitu pertumbuhan premi, masih bergerak lambat alias seret.

Kondisi tersebut tergambar dari laporan kuartalan Insurance Quaterly Report Q3 2025 yang dirilis oleh IFG Progress. Dikutip dari laporan tersebut, Selasa (14/1/2026), kinerja premi asuransi jiwa Indonesia hingga 9 bulan pertama 2025 berada dalam kondisi relatif stagnan. Secara struktural, kinerja premi masih dibayangi oleh pelemahan premi bisnis baru di tengah perlambatan pada kanal distribusi utama seperti bancassurance dan agen yang sudah turun sejak awal tahun.

Data OJK yang diolah IFG Progress menunjukkan premi asuransi jiwa kuartal III/2025 turun tipis 1,5% (YoY) menjadi Rp116,2 triliun. Sementara dari data AAJI, premi asuransi jiwa relatif stabil, naik 0,7% (YoY) tetapi struktur pertumbuhannya mengindikasikan tantangan akuisisi nasabah baru.

Di pihak lain, kinerja premi asuransi umum pada periode sama mencatatkan pertumbuhan hanya 5,8%. Tingkat pertumbuhan ini dinilai lebih rendah dibandingkan dengan 2024 yang mencapai 8%. Level pertumbuhan ini diperkirakan akan menjadi new normal growth seiring dengan perlambatan pertumbuhan dari sejumlah lini bisnis utama seperti asuransi kredit, suretyship, properti, dan kendaraan bermotor.

Meski demikian, profitabilitas baik asuransi jiwa maupun asuransi umum masih menunjukkan performa positif. Asuransi jiwa mencatatkan laba stelah pajak sebesar Rp8,3 triliun yang didorong oleh peningkatan signifikan hasil investasi yang disertai dengan penurunan klaim.

Di sisi lain, industri asuransi umum mencatat laba setelah pajak sebesar Rp11,5 triliun yang dipicu oleh peningkatan pendapatan underwriting dan hasil investasi serta menurunnya jumlah beban underwriting.

Kinerja rasio kesehatan keuangan juga terjaga dengan baik. Industri asuransi jiwa menunjukkan kondisi kesehatan keuangan yang kuat dengan rasio RBC sebesar 487%, sedangkan asuransi umum menunjukkan kondisi kesehatan keuangan yang kuat dan stabil dengan rasio RBC sebesar 377%.

IFG Progress menyoroti peristiwa bencana alam di Sumatra dan Aceh pada November 2025 berpotensi mendorong lonjakan klaim pada industri asuransi baik jiwa maupun umum.

Dari sisi asuransi jiwa, masyarakat terdampak yang memiliki polis asuransi jiwa dan asuransi kesehatan berpotensi meningkatkan pengajuan klaim manfaat, sementara pemegang polis PAYDI (unitlink) juga berpeluang melakukan surrender atau partial withdrawal atas nilai investasi untuk memenuhi kebutuhan likuiditas pascabencana.

Dari sisi asuransi umum akan menghadapi tekanan klaim terutama dari lini bisnis asuransi properti dan kendaraan bermotor termasuk potensi klaim atas asuransi Barang Milik Negara (BMN) yang ditanggung melalui konsorsium perusahaan asuransi umum.

"Dari perspektif kinerja keuangan, lonjakan klaim dalam periode yang relatif singkat berpotensi menekan hasil underwriting serta memengaruhi strategi retensi risiko dan penetapan premi ke depan, sehingga mempertegas pentingnya penguatan manajemen risiko bencana atau katastropik di industri asuransi," tulis Tim Riset IFG Progress.

Tren Global

Pada kuartal III/2025, riset IFG Progress mencatat kinerja industri asuransi di beberapa negara menunjukkan tren yang beragam. China mencatat pertumbuhan premi yang moderat dengan tekanan yang lebih besar pada industri asuransi jiwa akibat kenaikan klaim, sementara asuransi umum menunjukkan tren yang lebih positif melalui pertumbuhan premi yang positif dan klaim yang relatif terkendali.

Pendapatan premi asuransi jiwa di China mencatatkan pertumbuhan 10,2% (YoY), sedangkan industri asuransi umum membukukan pertumbuhan premi bruto sebesar 3,7% (YoY).

Taiwan memperlihatkan kinerja solid di industri asuransi jiwa melalui pertumbuhan premi dan penurunan signifikan pada klaim yang mendorong perbaikan loss ratio, sedangkan asuransi umum tetap tumbuh stabil dengan kenaikan klaim yang relatif moderat.

Pendapatan premi di asuransi jiwa tumbuh sebesar 10,7% (YoY), sedangkan di industri asuransi umum, pendapatan premi meningkat sebesar 6,9% (YoY).

Australia, yang telah sepenuhnya mengadopsi IFRS 17, menunjukkan kinerja beragam. Industri asuransi jiwa mengalami tekanan profitabilitas akibat penurunan pendapatan jasa asuransi dan kenaikan beban jasa asuransi, sementara asuransi umum membukukan kinerja yang lebih baik.

Sektor asuransi jiwa di Australia mencatat penurunan tipis pendapatan jasa asuransi sebesar -3,5% (YoY), sedangkan sektor asuransi umum menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik, ditopang oleh pertumbuhan pendapatan jasa asuransi sebesar 4,8% (YoY).

Terkait prospek kinerja asuransi global pada 2025, sebelumnya Allianz dan Swiss Re memperkirakan tahun 2025 adalah fase normalisasi pascalonjakan atau boom kinerja asuransi global pada 2024. Allianz memperkirakan pertumbuhan kinerja premi global pada 2025 hanya 8,6% sedangkan Swiss Re memperkirakan hanya tumbuh 2%.

Merujuk pada kinerja dan prospek industri asuransi global pada 2025, pemicu perlambatan kinerja premi di industri asuransi Indonesia yang terjadi pada 2025 tak terlepas dari tren global yang memang sedang pada fase konsolidasi.

(ach/ach)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |