China Tanam Pohon Massal, Satu Negara Berubah Total

9 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - China secara konsisten menjalankan kebijakan penghijauan melalui berbagai program pemulihan lingkungan, mulai dari penanaman pohon hingga restorasi padang rumput.

Salah satu inisiatif utama adalah Great Green Wall yang diluncurkan sejak 1978 dan berhasil mendorong peningkatan tutupan hutan nasional hingga melampaui 25%. Selain itu, pemerintah China juga menggulirkan program Grain for Green serta Natural Forest Protection yang berfokus pada alih fungsi lahan pertanian menjadi area hijau sekaligus menghentikan praktik penebangan hutan.

Studi yang dimuat dalam jurnal Earth's Future mencatat, rangkaian proyek penghijauan tersebut tidak hanya berdampak pada lanskap, tetapi juga memengaruhi pola distribusi air tawar di wilayah China.

Para peneliti menemukan terdapat perubahan pada tutupan vegetasi sepanjang 2001-2020. Ini mengurangi ketersediaan air untuk wilayah monsun timur dan kering barat laut, wilayah yang mencakup 74% daratan China serta menjadi lokasi utama pembangunan, lahan pertanian hingga pusat populasi.

Sementara itu di Dataran Tinggi Tibet, ketersediaan air mengalami peningkatan. Di sana terjadi peningkatan evapotranspirasi, yang merupakan proses penguapan dan transpirasi tanaman akibat meningkatnya tutupan hutan serta padang rumput.

"China telah melakukan penghijauan kembali dalam skala masif selama beberapa dekade terakhir. Mereka secara aktif memulihkan ekosistem yang kembali berkembang, khususnya di Dataran Tinggi Loess. Hal ini juga mengaktifkan kembali siklus Air," jelas Arie Staal, salah satu penulis studi, dikutip dari Live Science, Senin (8/12/2025).

Para peneliti melakukan analisa pada data resolusi tinggi terkait evapotranspirasi, presipitasi, perubahan penggunaan lahan dari berbagai sumber, serta model pelacakan uap air atmosfer. Hasilnya evapotranspirasi mengalami peningkatan lebih besar dari presipitasi, artinya sebagian air hilang di atmosfer.

Namun tren ini tidak merata di seluruh China. Sebab angin bisa memindahkan uap air hingga 7.000 kilometer dari sumbernya.

Peningkatan evapotranspirasi juga tercatat hanya terjadi pada perluasan hutan di wilayah monsun timur dan pemulihan padang rumput. Sementara presipitasi meningkat hanya di Dataran Tinggi Tibet, artinya tren ini membuat wilayah lain mengalami penurunan ketersediaan air.

"Meskipun siklus air menjadi lebih aktif, pada skala lokal lebih banyak air yang hilang dibanding sebelumnya," kata Staal.

Distribusi air di China juga disebut sudah tidak merata, misalnya pada wilayah dengan 46% populasi dan 60% lahan, hanya ada 20% air. Pemerintah setempat berupaya mengatasinya, namun kemungkinan akan gagal karena redistribusi air akibat penghijauan tidak diperhitungkan dengan baik.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |