Cerita Korban Gempa Myanmar, Tertimpa Bangunan-Kaget Masjid Ambruk

5 days ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Kehidupan masyarakat Myanmar pada 28 Maret 2025 berlangsung seperti biasa. Sehari sebelum akhir pekan, mereka sibuk menyelesaikan berbagai urusan, bekerja, dan bersekolah agar dapat menikmati libur dengan tenang. Tak ada yang menyangka bahwa siang itu akan menjadi titik balik yang mengubah segalanya.

Tepat pukul 12.50 waktu setempat, bencana datang tanpa peringatan. Gempa bumi dahsyat mengguncang, menggoyangkan bangunan-bangunan hingga roboh dalam sekejap.

Seorang penyintas menceritakan kepada BBC International bahwa dirinya terbangun mendadak dari tidur siang. Seolah ada yang membangunkannya. Namun, itu bukan ulah manusia, melainkan guncangan hebat yang melanda kota. Beruntung, ia segera berlari keluar sebelum bangunan tempatnya berada runtuh.

Mahasiswa Myanmar, Shin Thant Sanat, juga mengalami kejadian serupa. Saat tidur siang di rumah, ia terbangun karena gempa yang mengguncang seisi bangunan. Sang ibu yang panik segera membangunkannya sembari menyaksikan dengan ngeri bagaimana bangunan-bangunan di sekitar runtuh dalam hitungan detik. Satu-satunya yang tetap berdiri adalah rumah mereka.

Masjid di kota itu pun tak luput dari kehancuran. Shin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana puluhan jemaah yang tengah melaksanakan Salat Jumat tertimpa reruntuhan. Dalam sekejap, kota tempat tinggalnya, Yangoon, berubah drastis.

"Jalanan dan gedung-gedung yang aku kenal sejak kecil kini tak bisa lagi kukenali," tutur Shin Thant Sanat dengan getir.

Namun, tak semua seberuntung Shin.

Kyi Shwin mengalami kehilangan yang tak tergantikan. Kepada Straits Times, ia bercerita bahwa gempa merenggut nyawa putrinya yang baru berusia tiga tahun. Saat gempa terjadi, ia tengah makan siang. Tak ada hal berbeda. Sampai akhirnya ia terkejut oleh getaran tepat pukul 12.50 waktu setempat. 

Getaran hebat membuatnya segera menggendong anaknya dan berusaha keluar rumah. Namun, baru beberapa langkah, bangunan tempat mereka berada ambruk seketika.

"Saya berusaha berlari, tapi tidak sempat. Saya tertimpa reruntuhan batu bata," kenangnya dengan suara lirih.

Shin bisa selamat. Putrinya dinyatakan tewas.

Pergeseran Lempeng

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan bahwa gempa berkekuatan 7,7 skala Richter tersebut terjadi akibat pergerakan lempeng India dan Eurasia, Titik pusat gempanya berada di barat laut kota Sagaing pada kedalaman dangkal. Gempa juga timbul berulangkali. Beberapa menit setelahnya, muncul gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter. 

Pada akhirnya, gempa hebat membuat pemandangan kota berubah menjadi puing-puing kehancuran. Bangunan runtuh. Pohon dan tiang listrik tumbang dalam hitungan detik. Debu pekat memenuhi langit. Suasana sangat mencekam.

Meski getaran berlangsung tiga hingga empat menit, tetapi dampaknya akan terasa seumur hidup bagi para korban.

"Itu adalah getaran paling kuat seumur hidup," kata seorang penyintas. 

"Semua orang di kota ini berhamburan ke jalan, tak seorang pun berani kembali ke dalam gedung," ujar seorang saksi mata yang ketakutan.

Hingga kini, jumlah korban jiwa masih dihitung dan terus bertambah. Diperkirakan banyak korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Pada akhirnya, gempa Myanmar menjadi bukti bahwa manusia tak bisa menghindari aktivitas tektonik dan vulkanik.

Meskipun teknologi terus berkembang, belum ada yang mampu memprediksi secara akurat kapan bencana seperti ini akan terjadi. Maka, satu-satunya cara adalah belajar berdamai dengan alam. 


(mfa/mfa)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus SHS Amankan Cadangan Benih Padi Cs 100 Ribu Ton di 2026

Next Article Potret Mencekam Gempa Bumi M 7,7 Guncang Myanmar, Gedung Roboh

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |