Bye Saham Gorengan! Saatnya Kembali ke Fundamental

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun lalu saham fundamental tersingkir bahkan sempat dibilang mati, kini saham-saham yang disebut "gorengan" mulai tumbang.

Alhasil, banyak pelaku pasar mulai kembali ke jalan yang benar. Apalagi, setelah saham-saham yang disebut gorengan itu tersangkut kasus tindak pidana.

CNBC Indonesia merangkum beberapa tindak pidana ekonom khusus yang masuk dalam penyelidikan Badan Reserse Kriminal Polisi Republik Indonesia (Bareskrim Polri),

Kasus IPO PIPA dan Penggeledahan Underwriter

Mulai dari kasus IPO PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) sampai penggeledahan kantor PT Shinhan Sekuritas.

Kasus ini bermula dari dugaan rekayasa dalam proses penawaran saham perdana (IPO) PIPA. Dalam prosesnya, PT MML menggunakan jasa konsultan PT MBP, yang ternyata dimiliki oleh salah satu pegawai Bursa Efek Indonesia (BEI) bernama MBP, kini sudah berstatus terpidana.

Hasil penyidikan mengungkap fakta penting, yaitu PT MML tidak layak melantai di BEI. Penyebabnya, nilai aset perusahaan tidak memenuhi persyaratan yang seharusnya dipenuhi untuk bisa melakukan IPO. Meski demikian, proses IPO tetap berjalan.

Dari aksi tersebut, PT MML berhasil menghimpun dana sekitar Rp97 miliar dari masyarakat.

Dalam pengembangan perkara Dittipideksus Bareskrim Polri telah menetapkan tiga orang tersangka baru dari pihak PIPA dan eks karyawan Bursa Efek Indonesia, yaitu mantan staf di Divisi Penilaian dan Pemantauan Perusahaan Tercatat BEI berinisial BH, penasihat keuangan berinisial DA, dan manajer proyek IPO dari PIPA berinisial RE.

Adapun penggeledahan di kantor Shinhan Sekuritas dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan alat bukti dalam rangka proses penyidikan perkara. Sebagaimana diketahui, Shinhan berperan sebagai perusahaan penjamin atas IPO PIPA pada 10 April 2023.

Dugaan Kasus Insider Trading di Saham MINA dan PADI

Tak berhenti di saham PIPA, kasus berlanjut ke saham lain dengan dugaan adanya insider trading dan perdagangan semu PT Minna Padi Aset Manajemen (MPAM) yang kemudian menyeret saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA).

Gara-gara itu, saham MINA dan PADI pada perdagangan Rabu kemarin (4/2/2026) ditutup ambles sampai mentok Auto Reject Bawah (ARB).

Dari kasus ini, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) menetapkan tiga tersangka dalam dugaan kasus tindak pidana insider trading itu, mereka adalah Direktur Utama MPAM, DJ, pemegang saham MPAM, PADI, dan MINA, ESO, dan istrinya EL yang menjabat sebagai konusaris MPAM.

No.1 Back to Fundamental

Dari kasus-kasus itu, mengajarkan kita untuk lebih selektif lagi dalam memilah saham suatu emiten yang mau kita beli dan lebih fokus dengan saham-saham yang punya fundamental baik.

Kita harus jeli setiap ada narasi atau marketing saham yang setiap kali beredar di sosial media, apakah itu memang ada story yang bisa kita cek agenda bisnis dan propsek ke depan atau itu hal pom-pom saja tanda ada kejelasan.

Ada beberapa tips yang bisa kita terapkan supaya terhindar dari saham-saham yang mudah dimanipulasi seperti itu:

1. Jangan FOMO

Saham-saham mini yang sering digoreng memang sering kali menggiurkan, karena kalau sudah naik sampai ratusan persen, bahkan sampai multi bagger.

Kita jadi mengejar beli supaya tidak kehilangan momentum. Sayangnya, realita tidak selalu mujur, tak sedikit dari kita yang malah berakhir rungkad alias rugi dalam waktu tiba-tiba IHSG longsor, karena mayoritas saham terutama konglo jeblok sampai ARB.

DI sini menjadi PR kita untuk memilah lagi dan menelusuri, saham yang kita punya awalnya naik kenapa dan sekarang turun kenapa?

Apakah ada story dibaliknya yang jelas atau memang hanya narasi abu-abu yang berbasis ekspektasi saja, seperti masuk MSCI tanpa disertai prospek pertumbuhan laba dan valuasi yang masuk akal.

Pastikan juga, strategi kita masuk di saham itu untuk apa, apakah itu untuk investasi jangka panjang, jangka menengah, atau hanya untuk trading jangka pendek.

Kalau trading, patuhi aturan stop loss supaya bisa meminimalisir risiko, sementara untuk investasi selalu cross check ulang ketika saham jatuh itu kenapa, jika hanya pengaruh dari makro dan fundamental tidak ada pengaruh, momen turun seperti sekarang, justru bisa dimanfaatkan untuk beli lagi.

2. Fokus Fundamental Dulu

Fokus mencari saham yang fundamentalnya baik seperti cash flow positif, profitabilitas bertumbuh, agenda bisnis jelas dan bisa dipertanggungjawabkan melalui laporan keuangan sampai keterbukaan informasi yang diumumkan perusahaan secara berkala.

Fundamental perusahaan yang baik menjadi safety net pertama yang kita andalkan, karena biasanya di market yang crash, saham dengan kekuatan internal solid akan lebih cepat pulih.

3. Bijak Mengatur Money Management

Terakhir, aturlah money management dengan bijak. Semakin tidak jelas saham yang kita punya, porsinya harus semakin mini.

Karena ini bisa menjadi antisipasi jika terjadi seperti kasus-kasus di atas, karena sejati-nya sulit juga untuk kita bisa menghindari tekanan jual kalau sudah nyangkut di saham, apalagi waktu IHSG trading halt sampai dua kali, tetapi setidaknya dengan kita masuk porsi kecil, pengaruh ke portofolio kita tidak akan besar.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |