Bukan Tradisi Islam, Nyekar Saat Lebaran Ternyata Berasal Dari Sini

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat Idulfitri tiba, masyarakat Indonesia memiliki beragam tradisi yang sarat makna, salah satunya adalah nyekar. Tradisi ini merujuk pada kegiatan ziarah kubur yang biasanya disertai dengan penaburan bunga di atas makam keluarga atau leluhur.

Secara historis, nyekar bukanlah tradisi yang sepenuhnya lahir dari ajaran Islam. Akar praktik ini justru berasal dari kepercayaan masyarakat Jawa kuno serta pengaruh Hindu. Pada masa itu, masyarakat kerap memberikan persembahan atau sesaji kepada arwah leluhur, yang di dalamnya terdapat bunga atau "sekar" dalam bahasa Jawa.

Seiring masuknya Islam ke tanah Jawa, terjadi proses akulturasi budaya. Tradisi lama tidak serta-merta hilang, melainkan bertransformasi dengan nilai-nilai baru. Nyekar kemudian menjadi bagian dari praktik ziarah kubur dalam Islam, yang dimaknai sebagai pengingat akan kematian sekaligus sarana refleksi diri.

Menurut Muhamad Sochib dalam tulisannya di NU Online, nyekar memiliki nilai spiritual yang mendalam. Ia menjelaskan tradisi ini menjadi bentuk "komunikasi" antara yang hidup dan yang telah wafat.

"Dari sisi ritual tradisi 'nyekar' merupakan hal yang sangat positif, di samping sebagai wahana memperkuat tali salaturrahim 'lintas-alam' juga menjadi sarana mempertebal keimanan akan kehidupan setelah dunia," katanya.

Pandangan serupa juga ditemukan dalam riset berjudul "Kontestasi Pandangan Elite Agama di Gresik tentang Nyekar" (2016). Penelitian tersebut menyebut, masyarakat Jawa meyakini doa yang dikirimkan kepada orang yang telah meninggal tidak hanya bermanfaat bagi arwah, tetapi juga memberikan pahala bagi orang yang mengirimkannya.

Selain itu, terdapat pula keyakinan bahwa arwah orang-orang suci dapat menjadi perantara dalam menyampaikan doa kepada Tuhan. Yang dimaksud dengan arwah suci di sini adalah tokoh-tokoh yang dianggap memiliki kedekatan spiritual tinggi, seperti ulama, guru, atau figur karismatik yang diyakini memiliki keistimewaan.

Tradisi nyekar juga memiliki dimensi sosial dan historis. Dengan mengunjungi makam leluhur, seseorang dapat mengenali kembali asal-usul keluarganya. Dari situ, muncul rasa kasih sayang, empati, serta harapan agar mereka yang telah meninggal mendapatkan ampunan dari Tuhan.

"Dengan begitu, diharapkan timbul rasa sayang, iba, dan harapan besar akan ampunan dari Tuhan untuk mereka yang telah 'kembali' tersebut. Dan di sinilah ketulusan dan keikhlasan terwujud," Kata Sochib.

Lebih jauh lagi, nyekar juga menjadi momen refleksi bagi yang masih hidup. Melihat kehidupan yang telah berakhir, seseorang diingatkan akan berbagai hal yang mungkin belum sempat diselesaikan oleh mereka yang telah tiada-baik itu cita-cita, perjuangan, maupun kesalahan yang perlu diperbaiki. Dari situlah, tradisi ini mendorong setiap orang untuk menjalani hidup dengan lebih baik ke depannya.

(mfa/mfa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |