Bukan Bunker, Ruangan di Sekolah Jaksel TKP Temuan Senjata Basemen

5 hours ago 3
Jakarta -

Polisi memastikan ruangan tempat ditemukannya ratusan senjata di sekolah swasta kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel), bukan bunker. Polisi menyebut ruangan itu sebenarnya merupakan sebuah basemen.

"Sebetulnya itu bukan bunker, melainkan basemen yang terhubung dengan ruangan," kata Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Selatan Ipda Alpino De Tech kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Basemen tersebut terhubung langsung dengan salah satu ruangan di sekolah. Pihak kepolisian telah melakukan pengecekan dan tidak menemukan barang berbahaya di dalamnya.

"Jadi basemen ada tangganya, terhubung dengan ruangan, itu juga sudah dicek. Tidak ada temuan," ujarnya.

Polisi bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk memastikan tidak ada barang berbahaya lain yang terselip di sekolah tersebut. Saat ini, garis polisi (police line) di lokasi telah dilepas.

"Tadi sudah diperiksa oleh pihak Puslabfor, bagian DNA dan senjata juga sudah dicek. Kemudian, kami buka police line-nya agar lokasi bisa dimanfaatkan kembali oleh pihak yayasan sesuai ketentuan," tuturnya.

Temuan Ratusan Senjata

Sebagai informasi, sebanyak 996 pucuk senjata ditemukan pada 10-11 Juli 2026, lalu penemuan berlanjut pada Rabu (5/8) malam. Pihak kepolisian merinci, 995 pucuk di antaranya senapan angin, sedangkan satu pucuk lainnya merupakan senjata api jenis Franchi SPA, SPAS-15 kaliber 12 GA milik seorang pria berinisial DS, yang menjabat direktur di PT Lokta Karya Perbakin.

"Perlu kita luruskan bersama terkait penemuan barang yang diduga berupa senjata. Ada 996 yang ditemukan, 995 di antaranya merupakan senapan angin," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8).

Konflik Kepengurusan Yayasan Kubu IWD dan Kubu N

Alhadid, selaku kuasa hukum dari mantan Ketua Yayasan berinisial IWD, menyebut pihak yayasan kubu N sebenarnya sudah mengetahui keberadaan senjata yang disimpan di gudang tersebut. Ia mengaku heran pihak yayasan seolah-olah tidak mengetahui asal-usul senjata itu.

"Saya juga tidak tahu mengapa tiba-tiba mencuat, mereka seakan-akan baru tahu. Padahal mereka tahu dan itu sudah ada izinnya," ungkap Alhadid.

Alhadid menduga persoalan ini mencuat akibat konflik internal di kepengurusan yayasan sekolah. Konflik tersebut diduga berawal dari pemberhentian pembina yayasan sebelumnya secara sepihak.

"Ternyata setelah saya dalami, ada konflik di yayasan itu. Bu N ini sudah menduduki jabatan pembina secara fisik sejak April 2026. Jadi, selama 5 bulan menduduki posisi di sana, sebelum masuk, dia memberhentikan pembina lain," jelasnya.

Sementara itu, pihak yayasan membenarkan adanya konflik kepengurusan tersebut. Konflik inilah yang kemudian menjadi pintu masuk hingga ditemukannya ratusan senjata.

"Iya, karena tanpa adanya sengketa itu kami tidak bisa masuk. Justru karena sengketa tersebut, kami kemudian memberhentikan dia sebagai ketua," kata kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/8).

Setelah IWD diberhentikan, Hermawanto menjelaskan pihaknya baru mendapatkan akses untuk membuka ruangan tersebut. Saat diperiksa, ditemukan ratusan senjata berbagai jenis, barang diduga narkotika, hingga 30 keping compact disk (CD) porno.

"Lalu kami punya akses untuk masuk ke dalam ruangan sekolah. Akhirnya kami coba buka, tidak disangka ketika kami buka ruangan itu, kami temukan barang-barang terlarang. Seandainya tidak ada sengketa, mungkin senjata itu masih ada di sini," jelasnya.

(wnv/isa)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |