Breaking News! Rupiah Dibuka Menguat, Dolar Turun ke Rp16.860

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring melemahnya dolar di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (23/2/2026), rupiah dibuka di posisi Rp16.855/US$ atau terapresiasi 0,03%. Penguatan ini melanjutkan pergerakan pada perdagangan terakhir pekan lalu, ketika rupiah juga menguat tipis 0,06% di level Rp16.860/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah cukup tajam 0,40% ke level 97,404.

Penguatan rupiah hari ini mendapat dukungan dari tekanan pada dolar AS di pasar global. Pelemahan DXY mengindikasikan adanya aksi jual pada aset berdenominasi dolar, sehingga memberi ruang penguatan bagi mata uang lain, termasuk rupiah.

Sentimen global turut dipengaruhi perkembangan kebijakan tarif AS setelah Mahkamah Agung AS memutuskan sebagian besar tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump dinilai melampaui kewenangannya.

Namun, pasar juga masih mencermati respons lanjutan dari Gedung Putih, termasuk langkah mengenakan tarif umum 15% atas impor serta upaya mempertahankan kesepakatan tarif yang lebih tinggi dengan mitra dagang. Dinamika ini dinilai berpotensi menggeser prospek pertumbuhan di luar AS, sekaligus menambah ketidakpastian arah fiskal AS dan volatilitas kebijakan ke depan.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis APBN KiTa Edisi Februari 2026 yang memaparkan realisasi APBN per Januari 2026. Konferensi pers dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WIB dan akan dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Rilis APBN KiTa menjadi indikator awal arah kebijakan fiskal di awal tahun, mulai dari kinerja pendapatan negara, realisasi belanja, hingga kebutuhan pembiayaan.

Investor akan menaruh perhatian pada dinamika defisit di awal 2026, mengingat hingga Desember 2025 defisit APBN tercatat Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang berada di kisaran 2,3% dari PDB.

Bagi pasar, arah defisit dan pembiayaan penting karena berpengaruh terhadap ekspektasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), pergerakan imbal hasil, hingga sentimen terhadap rupiah.

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |