Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kiriman ponsel Nokia yang dipesan pada 2010 baru tiba di Tripoli, Libya, setelah tertahan selama 16 tahun.
Seorang pedagang ponsel di Tripoli menerima beberapa unit ponsel Nokia model lama, termasuk seri "Music-edition" dan Nokia Communicator yang pada masanya sangat populer dan menunjukkan status sosial penggunanya.
Perangkat tersebut merupakan ponsel dengan tombol fisik, yang sempat populer sebelum smartphone layar sentuh mendominasi pasar.
Ketika kiriman yang lama hilang itu akhirnya tiba, sang pemilik toko tak bisa menahan tawa. Saat membuka kotak berisi model lawas itu, ia mengatakan, "Ini ponsel atau artefak sejarah?"
Kiriman itu tertahan sejak perang saudara Libya pecah pada 2011, yang mengacaukan rantai pasok, membuat bea cukai tidak berfungsi, serta menyebabkan ketidakstabilan keamanan di berbagai wilayah.
Akibatnya, perangkat tersebut tertumpuk di gudang selama bertahun-tahun dan baru dapat dikirimkan tahun ini.
Menariknya, pengirim dan penerima kiriman tersebut berada di kota yang sama, hanya berjarak beberapa kilometer. Meski demikian, paket tersebut membutuhkan 16 tahun untuk mencapai tangan penerima.
Video unboxing perangkat yang beredar di media sosial memperlihatkan pemilik toko tertawa melihat kondisi kiriman yang sudah usang secara teknologi. Unggahan tersebut viral dan memancing komentar publik mengenai betapa konflik dapat mengganggu kehidupan bisnis dan arus logistik.
Selain itu, sejumlah pengguna media sosial melihat potensi ekonomi dari perangkat lawas tersebut. Mereka menilai ponsel lawas tengah diminati oleh kolektor di berbagai negara, sehingga perangkat tersebut mungkin dapat dijual dengan harga tinggi.
Peristiwa ini sekaligus menegaskan dampak panjang konflik terhadap kegiatan ekonomi di Libya, termasuk sektor perdagangan, logistik, dan distribusi barang.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]


















































