Belanda Geser 86 Ton Emas dari New York ke London, Siap-Siap Krisis?

1 hour ago 1

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

03 September 2026 11:35

Jakarta,CNBC Indonesia - De Nederlandsche Bank (DNB) baru saja merombak lokasi penyimpanan cadangan emasnya.

Sepanjang Maret-Agustus 2026, sekitar 86 ton emas dipindahkan dari kepemilikan yang sebelumnya berada di New York dan Ottawa menuju London.

Ini bukan berarti cadangan emas Belanda berkurang.

Totalnya tetap sekitar 612,4 ton, senilai €72,2 miliar atau sekitar Rp1.479,7 triliun (€1 = Rp20.495) pada akhir 2025. Yang berubah adalah lokasi penyimpanannya. Porsi emas di London melonjak dari 18,1% menjadi 32,1%, sementara New York turun dari 31,3% menjadi 18,5% dan Ottawa dari 19,7% menjadi 18,5%.

Langkah tersebut menjadi menarik karena Belanda bukan pemilik emas kecil.

Belanda Masuk Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia

Berdasarkan data World Gold Council terbaru per 4 Agustus 2026, Belanda berada di peringkat ke-11 dunia dengan sekitar 612,5 ton emas, jika IMF dikeluarkan karena bukanlah sebuah negara.

Dengan cadangan sebesar itu, perubahan tempat penyimpanan puluhan ton emas bukan sekadar persoalan logistik.

Kenapa Belanda Memindahkan Emas-nya?

DNB menyebut relokasi tersebut sebagai bagian dari kesiapan menghadapi krisis di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Bank sentral ingin membuat cadangan emasnya lebih likuid dan lebih mudah digunakan jika sewaktu-waktu terjadi kondisi ekstrem pada sistem finansial.

Gubernur DNB, Olaf Sleijpen, mengatakan langkah itu diperlukan untuk memperkuat ketahanan dan kesiapan bank sentral. DNB sendiri berharap cadangan tersebut tidak pernah perlu digunakan, tetapi tetap harus siap jika krisis terjadi.

Dilansir dari BBC, DNB tidak merinci secara spesifik ketegangan geopolitik mana yang dimaksud. Namun, relokasi berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada, serta ketidakpastian ekonomi AS akibat perang dengan Iran yang turut mengganggu perdagangan global.

Pemindahan 86 ton emas itu juga tidak seluruhnya dilakukan secara fisik. Sekitar 27 ton emas dipindahkan dari New York dan Ottawa ke Zeist, Belanda, lalu emas dalam jumlah dan kualitas serupa dipindahkan dari Zeist ke London.

Sisanya dilakukan dengan cara menjual sekitar 59 ton emas di New York, kemudian membeli kembali emas dalam jumlah setara di London. DNB menyebut kombinasi jual-beli dan pemindahan fisik ini membantu menyebarkan risiko dalam proses relokasi yang kompleks.

Kenapa London?

London dipilih karena bukan sekadar tempat penyimpanan emas, tetapi salah satu pusat perdagangan emas fisik terbesar dunia.

Emas yang disimpan di Bank of England terhubung langsung dengan pasar London dan harus memenuhi standar London Good Delivery, sehingga lebih mudah dijual atau dipindahkan tanpa perlu dilebur atau diuji ulang.

DNB sendiri menyebut emas di London sebagai salah satu yang paling mudah diperdagangkan di dunia. Bank of England juga memungkinkan perpindahan emas melalui pencatatan antar-rekening, sehingga transaksi dapat dilakukan tanpa selalu memindahkan batangan emas secara fisik.

Skala pasarnya juga besar. Per akhir Juli 2026, sekitar 9.534 ton emas senilai sekitar US$1,2 triliun (Rp21.220,8 triliun) tersimpan di vault London. Karena itu, bagi DNB, memindahkan lebih banyak cadangan ke London berarti membuat emasnya lebih likuid dan lebih cepat digunakan saat krisis.

Belanda Sempat Aktif Menjual Emas

Jika melihat ke belakang, Belanda pernah cukup aktif mengurangi cadangan emasnya. Data World Gold Council menunjukkan penjualan emas Belanda di bawah skema Central Bank Gold Agreement (CBGA) terjadi terutama pada periode 2002-2008.

Penjualan terbesar tercatat pada 2005 sebesar 82,5 ton, disusul 74,2 ton pada 2003 dan 54 ton pada 2006. Secara kumulatif, penjualan sepanjang 2002-2008 mencapai sekitar 272 ton. Sejak 2009 hingga 2026, tidak ada lagi penjualan emas Belanda yang tercatat di bawah skema tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan transaksi 59 ton yang dilakukan DNB pada 2026. Penjualan emas di New York kali ini bukan untuk mengurangi cadangan, melainkan bagian dari proses relokasi karena emas dalam jumlah setara kembali dibeli di London. Total cadangan emas Belanda pun tetap sekitar 612 ton.

Apa Sinyal-nya ke Dunia?

Langkah Belanda menunjukkan bahwa bank sentral kini tidak hanya memikirkan berapa banyak emas yang dimiliki, tetapi juga di mana emas disimpan dan seberapa cepat aset itu bisa digunakan ketika krisis terjadi.

Relokasi DNB ke London memperlihatkan bahwa likuiditas dan akses terhadap emas mulai menjadi bagian penting dari strategi cadangan.

Tren ini tidak terjadi hanya di Belanda. Survei World Gold Council 2026 menunjukkan 10% bank sentral telah mendiversifikasi lokasi penyimpanan emas di luar negeri dalam 12 bulan terakhir, naik dari 2% pada survei sebelumnya.

Bank of England menjadi salah satu lokasi utama karena emas yang disimpan di sana memenuhi standar perdagangan internasional dan lebih mudah diperdagangkan.

Pada saat yang sama, minat bank sentral terhadap emas juga tetap kuat.

Sebanyak 89% responden memperkirakan cadangan emas global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, sementara 45% berencana menambah cadangan emas institusinya sendiri. Dalam empat tahun terakhir, pembelian emas bank sentral dunia rata-rata mencapai sekitar 1.000 ton per tahun, dua kali lipat rata-rata dekade sebelumnya.

Survei yang sama juga menunjukkan 74% responden memperkirakan porsi dolar AS dalam cadangan global akan menurun dalam lima tahun mendatang, sementara porsi emas diperkirakan meningkat.

Hal ini belum berarti bank sentral meninggalkan dolar, tetapi menunjukkan kecenderungan untuk memperbesar diversifikasi cadangan di tengah risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.

Kasus Belanda menjadi contoh konkretnya. DNB tidak menambah jumlah emas, tetapi mengubah lokasi penyimpanan agar cadangannya lebih tersebar, likuid, dan mudah digunakan. Sinyalnya cukup jelas: di tengah ketidakpastian global, emas semakin diperlakukan sebagai aset strategis untuk kesiapan krisis, bukan sekadar penyimpan nilai pasif.

(slm/slm)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |