Banyak Kabar Baik, IHSG-Rupiah Tinggal Hadapi 'Monster' dari Amerika

6 hours ago 2
  • Pasar keuangan Indonesia masih ditutup beragam, rupiah menguat sementara bursa saham melemah
  • Wall Street pesta pora, Dow Jones rekor
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada awal perdagangan pekan ini. Bursa saham melemah sementara rupiah nampak perkasa.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bergerak kompak menguat pada hari ini. . Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halamann 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (29/6/2026) di zona merah dengan penurunan 75,34 poin atau 1,28% ke level 5.820,79.

Sebanyak 449 saham melemah, 214 menguat, dan 149 stagnan.

Aktivitas perdagangan juga terbilang lesu dengan nilai transaksi hanya Rp9,1 triliun, jauh di bawah rata-rata harian pekan lalu yang sebesar Rp17,58 triliun. Bahkan, dibandingkan pekan terakhir bulan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian telah menyusut lebih dari 38%, menandakan minat transaksi di pasar masih rendah.

Asing  mencatat net sell sebesar Rp 881,58 miliar pada perdagangan Senin kemarin.

Tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo. Tiga emiten bank, yakni PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI, danPT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), menyumbang sekitar 54% dari total nilai transaksi harian.

Berdasarkan data Refinitiv, PT Bank Central Asia (BBCA) menjadi pemberat utama indeks setelah anjlok 4,05% ke level 5.925 sehingga memangkas IHSG sekitar 23,42 poin.

Indeks sempat dibuka menguat hingga menyentuh level 5.942,77 atau naik sekitar 0,7%, namun hanya dalam waktu sekitar 20 menit berbalik ke zona merah dan bertahan hingga penutupan.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah menutup perdagangan Senin (29/6/2026) di zona hijau di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menguat 0,39% ke level Rp17.835/US$, dengan pergerakan sepanjang kemarin berada di kisaran Rp17.825-Rp17.880 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring indeks dolar AS (DXY) yang melemah 0,15% ke level 101,203.

Meski demikian, dolar AS masih berada dalam tren penguatan bulanan yang didukung tingginya imbal hasil obligasi AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan AS.

Dari dalam negeri, pemerintah dan otoritas ekonomi menegaskan komitmennya menjaga stabilitas makro di tengah tingginya ketidakpastian global. Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menilai stabilitas inflasi, daya beli, serta kepercayaan investor menjadi prioritas, terutama karena pelemahan rupiah relatif lebih besar dibanding mata uang negara sejenis.

Sementara itu, Bank Indonesia memperkuat likuiditas melalui ekspansi hingga sekitar Rp1.000 triliun pada akhir Juni, mempertahankan BI Rate di level 5,75%, serta menyesuaikan instrumen operasi moneter untuk menarik arus modal asing. Hingga 26 Juni 2026, aliran dana asing ke SBN dan SRBI tercatat telah mencapai sekitar US$9 miliar.

 Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,138% pada perdagangan Senin kemarin, dari 7,18% pada akhir pekan lalu.

Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |