AS Kian Galak! Lusinan Tanker Minyak Venezuela Bakal Disita Washington

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengajukan surat perintah pengadilan untuk menyita lusinan kapal tanker yang terkait dengan perdagangan minyak Venezuela. Langkah ini mempertegas kendali Washington atas pengiriman minyak di negara Amerika Selatan tersebut.

Melansir Reuters, Selasa (13/1/2026), militer dan Penjaga Pantai AS telah menyita lima kapal dalam beberapa pekan terakhir di perairan internasional. Kapal-kapal tersebut diketahui sedang membawa minyak Venezuela atau pernah melakukannya di masa lalu.

Penyitaan ini merupakan bagian dari kampanye Washington untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang puncaknya terjadi saat pasukan AS menangkapnya pada 3 Januari lalu.

Sejak saat itu, pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan rencana untuk mengendalikan sumber daya minyak Venezuela tanpa batas waktu, sembari berupaya membangun kembali industri minyak negara tersebut yang kini terbengkalai.

Pemerintah AS telah mengajukan beberapa tindakan penyitaan sipil di pengadilan distrik, terutama di Washington, D.C. Hal ini memungkinkan penyitaan kargo minyak dan kapal yang terlibat dalam perdagangan tersebut.

Kapal-kapal yang telah dicegat umumnya berada di bawah sanksi AS atau merupakan bagian dari "armada bayangan". Ini adalah kelompok kapal tidak teregulasi yang menyamarkan asal-usul mereka untuk memindahkan minyak dari produsen yang terkena sanksi seperti Iran, Rusia, atau Venezuela.

Hingga saat ini, masih banyak tanker di laut yang membawa minyak mentah Venezuela ke pembeli utama seperti China. Meskipun Departemen Kehakiman AS belum memberikan komentar resmi, Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan pihaknya sedang memantau beberapa kapal lain untuk tindakan penegakan hukum serupa.

Eskalasi Ketegangan dengan Rusia

Salah satu momen signifikan terjadi pada 7 Januari lalu, saat militer AS menyita tanker Bella-1. Kapal tersebut berbendera Rusia, menandai pertama kalinya dalam sejarah baru-baru ini militer AS menyita kapal milik Moskow.

Rusia, seperti halnya Venezuela, sangat bergantung pada armada bayangan untuk mengangkut minyak yang terkena sanksi. Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut tindakan AS sebagai "penggunaan kekuatan ilegal" dan menilai penerapan sanksi AS tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Walau begiti, pihak Pentagon menegaskan tidak akan mengendurkan pengawasan.

"Kami akan memburu dan menghentikan SEMUA kapal armada gelap yang mengangkut minyak Venezuela pada waktu dan tempat yang kami pilih," tegas juru bicara Pentagon, Sean Parnell.

Dampak Ekonomi dan Blokade

Pada Desember lalu, Trump memberlakukan blokade untuk mencegah tanker yang disetujui mengirimkan minyak Venezuela, yang sempat membuat ekspor terhenti total. Namun, pengiriman mulai dilanjutkan pekan ini di bawah pengawasan ketat AS.

Sebagai informasi, nilai aset minyak yang dipertaruhkan dalam konflik ini sangat besar. Sebagai gambaran, jika sebuah kargo membawa 1 juta barel minyak dengan asumsi harga minyak mentah US$75 (Rp 1.173.000) per barel, maka nilai satu kapal yang disita bisa mencapai US$75 juta (Rp 1,173 triliun).

Langkah penyitaan kapal beserta kargonya ini dianggap sebagai eskalasi serius dibandingkan periode 2020-2023, di mana saat itu AS biasanya hanya menyita kargo minyaknya saja tanpa menyita fisik kapalnya.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |