Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
17 January 2026 13:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura sebagai pemberi utang terbesar Indonesia tercatat kembali meningkat. Sementara itu, utang dari dua negara dengan ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat (AS) dan China kompak menurun.
Bank Indonesia (BI) merilis Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) pada Kamis (15/1/2026). Dalam rilis tersebut, total utang luar negeri (ULN) Indonesia pada November 2025 yang terdiri dari ULN pemerintah dan bank sentral serta ULN swasta tercatat sebesar US$423,8 miliar, turun dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar US$424,9 miliar.
Jika dikonversi ke rupiah, posisi ULN Indonesia setara dengan Rp7.149 triliun (asumsi kurs Rp16.870/US$1). Secara tahunan, ULN Indonesia juga mencatat kontraksi 0,2% (yoy), berbalik melemah dibandingkan pertumbuhan pada Oktober 2025 yang masih tumbuh 0,5% (yoy).
Penurunan ULN pada November 2025 terutama dipicu oleh melemahnya ULN pemerintah. Posisi ULN pemerintah tercatat sebesar US$209,8 miliar, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$210,5 miliar.
Sejalan dengan itu, pertumbuhan ULN pemerintah juga melambat dari 4,7% (yoy) pada Oktober 2025 menjadi 3,3% (yoy) pada November 2025, salah satunya dipengaruhi oleh berkurangnya kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN).
Sementara itu, ULN swasta juga menurun. Pada November 2025, posisi ULN swasta tercatat sebesar US$191,2 miliar, lebih rendah dibandingkan Oktober 2025 sebesar US$191,7 miliar. Secara tahunan, ULN swasta mencatat kontraksi 1,3% (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 1,5% (yoy).
Pemberi Utang Terbesar RI
Singapura masih menjadi pemberi utang terbesar bagi Indonesia hingga November 2025, dengan posisi mencapai US$56,32 miliar. Nilai tersebut naik 1,02% dibanding Oktober 2025 yang sebesar US$55,75 miliar, menunjukkan arus pembiayaan dari Singapura kembali menguat pada akhir tahun.
Di posisi kedua, Amerika Serikat mencatatkan utang sebesar US$26,42 miliar pada November 2025. Angka ini turun 1,41% secara bulanan dari US$26,80 miliar pada Oktober 2025. Sementara itu, China berada di urutan ketiga dengan nilai US$23,32 miliar, turun tipis 0,31% dari US$23,40 miliar.
Di luar tiga besar tersebut, Jepang mencatat posisi utang sebesar US$19,70 miliar pada November 2025, turun 0,65% dari Oktober 2025 melanjutkan tren penurunan yang konsisten sejak 2010. Level ini kembali menjadi yang terendah setidaknya dalam 15 tahun terakhir.
Utang RI ke AS dan China Sama sama Turun
Jika melihat dua negara dengan ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat (AS) dan China, utang luar negeri Indonesia pada November 2025 bergerak seirama, sama-sama turun. Posisi utang kepada AS tercatat US$26,42 miliar, turun dari US$26,80 miliar pada Oktober 2025. Artinya, ada penurunan sekitar US$0,38 miliar atau setara turun 1,41% secara bulanan.
Level utang ke AS ini juga tergolong relatif rendah. Bahkan, pada Agustus 2025, posisi utang Indonesia kepada AS sempat tercatat sebagai yang terendah sejak April 2020 ketika itu nilai utang Indonesia dari AS tercatat sebesar US$24,85 miliar.
Sementara itu, utang kepada China berada di level US$23,32 miliar pada November 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar US$23,40 miliar. Koreksinya relatif kecil, yakni sekitar US$0,07 miliar atau turun 0,31% secara bulanan, menandakan pembiayaan dari China cenderung lebih stabil meski tetap mengalami penyesuaian.
Menariknya, posisi utang dari China pada November 2025 ini juga menjadi yang terendah sejak Desember 2024, atau hampir dalam setahun terakhir. Ini mengindikasikan laju penambahan pembiayaan dari China mulai melandai dibanding periode-periode sebelumnya.
Selama beberapa tahun terakhir, pembiayaan dari China umumnya mengalir ke proyek-proyek infrastruktur berskala besar di Tanah Air, mulai dari jalan tol, pelabuhan, hingga pengembangan jaringan transportasi seperti kereta cepat.
Jalur pembiayaan ini berperan dalam memperkuat konektivitas, menopang logistik, serta mendorong percepatan pembangunan di berbagai koridor ekonomi.
Di sisi lain, kontribusi Amerika Serikat lebih sering terlihat melalui investasi dan dukungan pembiayaan pada sektor bernilai tambah tinggi. Fokusnya banyak mengarah ke teknologi, energi, dan pengembangan industri, baik lewat instrumen pasar keuangan maupun kemitraan investasi strategis dengan pelaku usaha.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)


















































