Jakarta, CNBC Indonesia - Peta kekuatan paspor dunia memasuki fase baru pada 2026. Laporan terbaru Henley Passport Index 2026 menunjukkan jurang yang makin lebar antara negara dengan mobilitas tertinggi dan terendah di dunia, seiring paspor berubah menjadi faktor kunci penentu akses ekonomi, keamanan, dan peluang global.
Di puncak peringkat, Singapura mempertahankan posisi sebagai paspor terkuat dunia, memberikan akses bebas visa ke 192 destinasi. Di sisi berlawanan, Afghanistan kembali menempati posisi terbawah, dengan warganya hanya bisa masuk ke 24 negara tanpa visa. Artinya, kesenjangan mobilitas global kini mencapai 168 destinasi, jauh melebar dibanding 2006 yang hanya terpaut 118 destinasi.
"Selama 20 tahun terakhir mobilitas global tumbuh pesat, tapi manfaatnya terdistribusi sangat tidak merata," kata Dr. Christian H. Kaelin, Chairman Henley & Partners dikutip dari Henley Global, Kamis (15/1/2026).
Namun, Direktur Jenderal IATA Willie Walsh mengingatkan, paspor saja kini tak lagi cukup untuk melintasi batas negara. Sebab negara-negara memperketat perbatasan dan memperluas sistem pengawasan berbasis teknologi.
Setelah Singapura, Jepang dan Korea Selatan berbagi posisi kedua dengan akses bebas visa ke 188 destinasi. Posisi berikutnya diisi negara Eropa seperti Denmark, Luksemburg, Spanyol, Swedia, dan Swiss.
AS Ketat Masuk, China Makin Terbuka
Ketimpangan terlihat jelas di kebijakan perbatasan. Warga AS bebas masuk ke 179 negara, namun AS hanya memberi akses bebas visa kepada 46 negara lain, menempatkannya di peringkat 78 dari 199 negara dalam Henley Openness Index.
Sebaliknya, China justru bergerak ke arah sebaliknya. Dalam dua tahun terakhir, Beijing membuka akses bebas visa ke lebih dari 40 negara, kini menerima warga dari 77 negara tanpa visa.
"Keterbukaan kini menjadi instrumen soft power," kata Dr. Tim Klatte dari Grant Thornton China.
Henley Global Mobility Report 2026 juga mengungkap rencana kontroversial U.S. Customs and Border Protection yang berpotensi mengakhiri visa-free travel ke AS. Mulai 2026, warga dari 42 negara sekutu, termasuk Inggris, Jerman, Prancis, dan Jepang, berpotensi diwajibkan menyerahkan data pribadi ekstrem seperti riwayat media sosial 5 tahun, email dan nomor telepon 10 tahun, biometrik lengkap hingga DNA yang disimpan sampai 75 tahun.
"Ini membuka pintu penyaringan ideologi dan risiko penyalahgunaan data," ujar Greg Lindsay dari Atlantic Council.
Sorotan tajam ke Amerika dan Inggris
Sorotan tajam mengarah ke Amerika Serikat dan Inggris. Meski AS kembali masuk Top 10, kedua negara mencatat penurunan tahunan terdalam dalam akses bebas visa.
AS kehilangan 7 destinasi, Inggris kehilangan 8 dalam satu tahun terakhir. Sejak 2006, AS turun dari peringkat 4 ke 10, sementara Inggris merosot dari peringkat 3 ke 7.
"Erosi kekuatan paspor AS dan Inggris bukan sekadar teknis, tapi sinyal pergeseran geopolitik yang lebih dalam," kata Misha Glenny, jurnalis internasional dan Rector Institute for Human Sciences, Wina.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]


















































