Alarm Eropa Berbunyi, Negara Ini Kembali Hadapi 'Badai Keuangan'

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Yunani kembali menghadapi tantangan serius di sektor keuangan meski sempat pulih dari krisis besar satu dekade lalu. Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan, kemampuan bank-bank Yunani untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masih terbatas karena beban utang swasta yang belum terselesaikan.

Dalam blog terbaru ECB mengutip Reuters pada Senin (23/3/2026) disebutkan, sebagian besar utang bermasalah kini berada di luar sistem perbankan. Kondisi ini membuat bank kesulitan menyalurkan pembiayaan secara optimal, meski indikator kinerja mereka telah membaik.

Sebagai catatan, sektor perbankan Yunani pernah menderita kerugian besar saat krisis 2010 dan 2015. Saat itu, kredit macet (NPL) mencapai hampir 50% dari total portofolio pinjaman mereka, simpanan mereka berkurang setengahnya, dan mereka menderita kerugian miliaran dolar dari 'pemotongan nilai' pada obligasi yang mereka pegang.

Seiring membaiknya kondisi ekonomi, perbankan Yunani mulai bangkit. Likuiditas meningkat, profitabilitas membaik, dan modal bank menjadi lebih kuat. Kredit kepada perusahaan non-keuangan tercatat meningkat signifikan, sementara kredit perumahan mulai pulih.

"Bank-bank Yunani kembali mampu membiayai rumah tangga dan bisnis, yang mendukung investasi. Pinjaman kepada perusahaan non-keuangan telah meningkat secara signifikan dan pinjaman hipotek pulih," kata para ekonom ECB.

Empat bank terbesar Yunani yakni National Bank, Eurobank, Piraeus, dan Alpha Bank bahkan mencatat laba bersih gabungan hampir 5 miliar euro pada 2025. Rasio kredit bermasalah mereka juga turun drastis menjadi di bawah 4%, mendekati rata-rata perbankan Eropa.

Pemerintah Yunani juga telah merampungkan privatisasi keempat bank tersebut pada 2024, setelah sebelumnya menyuntikkan dana talangan hingga 50 miliar euro saat krisis. ECB pun telah mengizinkan bank kembali membagikan dividen setelah 16 tahun.

Namun, di balik pemulihan ini, masalah struktural masih membayangi. Yunani sebelumnya memindahkan sekitar 57 miliar euro kredit bermasalah ke pasar sekunder melalui skema perlindungan aset. Akibatnya, banyak utang kini ditangani oleh perusahaan pengelola pinjaman, bukan bank.

Dampaknya, rumah tangga dan pelaku usaha yang masih memiliki utang bermasalah menjadi sulit mengakses kredit baru. ECB menilai kondisi ini membatasi kemampuan perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.

Nilai aset bermasalah tersebut bahkan setara dengan sekitar sepertiga produk domestik bruto (PDB) Yunani. ECB menegaskan, penyelesaian utang bermasalah ini masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi negara tersebut ke depan.

"Aset yang terlibat setara dengan sekitar sepertiga dari PDB Yunani. Menangani sejumlah besar pinjaman bermasalah ini tetap menjadi salah satu tantangan terberat," kata ECB.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |