Bripka Gaguk Prasetyo dinilai sebagai sosok polisi yang humanis dan sangat bermasyarakat di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara. Kanit Intel Polsek Pinolosian itu merangkul muda-mudi untuk peduli terhadap sesama manusia dan lingkungannya.
Atas kiprahnya, Bripka Gaguk diusulkan menjadi kandidat Hoegeng Awards 2026 oleh warga Bolaang Uki, Kabupaten Bolsel, bernama Wiranto Makalalag. Bripka Gaguk disebut merangkul muda-mudi dalam Persatuan Relawan Pemuda Molibagu (Peredam) Bolsel.
"Beliau ini sebenarnya bukan orang Bolaang Mongondow Selatan atau orang Sulawesi, tapi orang Jawa. Jadi torang sebagai warga Bolsel asli itu merasa bahwa 'Ih orang yang dari luar Bolaang Mongondo Selatan, memiliki rasa kepedulian yang tinggi di daerahnya torang, padahal dia bukan orang asli sini'. Nah saya dari situ melihat lebih mantap kalau bergabung dengan mereka di Peredam ini," kata Wiranto kepada detikcom, Kamis (19/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wiranto menyebut banyak kegiatan sosial yang digerakkan Bripka Gaguk lewat Peredam Bolsel sejak 2020. Bripka Gaguk, kata dia, membina anak-anak muda Bolsel untuk peduli terhadap sesama manusia dan lingkungan dengan mengajaknya untuk aktif dalam kegiatan sosial, misalnya penanganan bencana.
"Kalau kegiatan memang sudah banyak dan memang beliau yang jadi inisiator di semua kegiatan-kegiatan Peredam ini. Kalau bisa dilihat dari Instagram, Facebook-nya Peredam juga ada," ucapnya.
Adapun aksi sosial yang rutin digelar Peredam Bolsel setiap tahunnya adalah sunatan massal. Belakangan, kata Wiranto, Bripka Gaguk tengah mengupayakan penangkaran hewan endemik di Bolsel, yakni burung Maleo agar tidak punah.
"Beliau melakukan lobi-lobi untuk bagaimana torang bisa selamatkan maleo yang ada di tempat kita ini. Karena kurang ada perhatian mulai dari jembatan (ke lokasi penangkaran) enggak ada sampai gaji penjaga maleo itu juga enggak ada. Dari situ, beliau yang kumpulkan torang anak-anak untuk sama-sama peduli dengan itu," ujar Wiranto.
Wiranto berharap Bripka Gaguk tetap kuat menggerakkan Peredam Bolsel yang telah merangkul banyak anak muda untuk hidup lebih bermanfaat lagi bagi sesama manusia dan lingkungan.
"Ke depan, nanti semoga beliau masih tetap semangat untuk urus ini komunitas itu. Semoga komunitas ini tetap ada berjalan terus," katanya.
Bripka Gaguk Prasetyo Foto: dok. istimewa
Dihubungi terpisah, Bripka Gaguk menjelaskan awal mula ide membentuk Peredam Bolsel. Saat tahun 2020, Bolsel dilanda banjir bandang dan ia diberi amanat oleh beberapa rekannya di luar kota untuk menyalurkan bantuan tersebut kepada para korban yang terdampak.
Awalnya ia ragu, karena takut tidak bisa menjaga titipan para donatur untuk para korban bencana. Tapi akhirnya Bripka Gaguk memberanikan diri untuk menerima amanah para donatur dengan menjadikan halaman belakang rumahnya sebagai dapur umum untuk para korban bencana.
"Seiring waktu berjalan baru satu-dua hari, ini muncul anak-anak muda dari berapa organisasi bantu-bantu, saya bilang begini 'kalau kalian suka ayo rame-rame'. Semua komunitas pemuda yang sifatnya suka peduli dengan banjir ini, kita bantu ayo kumpul," ucap Bripka Gaguk.
Hampir 6 bulan menangani para korban banjir bandang di wilayahnya, Bripka Gaguk merasa tugasnya sudah selesai bersama anak-anak muda yang tergabung di Peredam Bolsel. Namun ternyata anak-anak muda ini ingin terus bersama Bripka Gaguk memberi manfaat dalam kegiatan-kegiatan sosial.
"Dari situ semakin berkembang, akhirnya kami daftarkan secara legalitas hukumnya dan di situ kami berkembang bukan cuma fokus di urusan kemanusiaan ya, sudah mulai terkait bidang lingkungan hidup, terus termasuk sanggar, UMKM. Alhamdulillah sampai sekarang masih jalan terkait sanggar, terkait lingkungan itu," ujarnya.
Menurut Bripka Gaguk, saat ini ada 112 orang yang tergabung dalam komunitas yang dipeloporinya tersebut. Dia membeberkan pendanaan untuk setiap kegiatan Peredam Bolsel dihasilkan dari penggalangan dana, tapi tak sedikit ia harus merogoh gocek sendiri.
"Kalau yang sifatnya-sifatnya kemanusiaan itu kita ada donatur biasa yang sudah tahu dari organisasi kita ini. Jadi di saat ada bencana, kita bikin flyer itu sudah masuk ke rekening kas kita Peredam, untuk kegiatan kemanusiaan ya," kata Bripka Gaguk.
"Tapi kalau untuk kegiatan hari-hari itu kita kas dapat biasa dari sanggar, itu anak-anak tampil menari itu kan ada dapat upah, dari upahnya itu 15% dimasukkan kas peredam, termasuk yang ini temen-temen yang usaha UMKM juga itu ya ada lah sedikit-sedikit untuk kas," tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengungkap alasan dan motivasinya merangkul anak-anak muda Bolsel dalam komunitas tersebut. Menurutnya, rata-rata anak muda yang bergabung dengan Peredam Bolsel adalah pemabuk minuman keras hingga pengonsumsi obat-obatan terlarang.
Atas hal tersebut, Bripka Gaguk termotivasi untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan buruk para anak muda tersebut. Dalam Peredam Bolsel, anak-anak muda itu dibina dan diarahkan untuk mengikuti kegiatan yang positif.
"Mereka mahasiswa rata-rata peminum, pemabuk, ada yang pake obat-obatan. Alhamdulillah di Peredam itu yang jadi pantangan no drugs, no alkohol, no politik. Akhirnya alhamdulillah sampai hari ini semua bisa kembali ke jalan yang benar gitu. Anak-anak itu sudah ndak mengkonsumsi barang itu," ujarnya.
Penangkaran Burung Maleo
Lebih lanjut, Bripka Gaguk menjelaskan terkait tujuannya ingin mengembangkan penangkaran burung maleo yang ada di Bolsel. Dia tak mau hewan endemik itu punah karena tidak dilestarikan dengan baik.
"Yang jadi permasalahan kan fasilitasnya. Dulu Pak Basri ini digaji WCS (Wildlife Conservation Society) terkait mengelola (penangkaran) maleo ini. Nah, sudah 1 tahun lebih sudah putus kontrak (karena) WCS sudah tidak mampu untuk membiayai honorernya Pak Basri itu," kata Gaguk.
Bripka Gaguk Prasetyo Foto: dok. istimewa
Akhirnya, ia tergerak untuk membuat terobosan dalam mengelola penangkaran maleo di Bolsel. Bripka Gaguk menemui petinggi perusahaan tambang emas di dekat penangkaran maleo untuk meminta bantuan agar proses pelestarian maleo itu bisa terus berlanjut.
"Alhamdulillah direspon waktu itu. Jadi yang menjadi permintaan itu gaji penjaga maleo, tempat penangkaran penetasan telur, menara pengawas, gazebo dan jembatan. Alhamdulillah, sampai hari ini sudah dieksekusi terkait gaji yang selama ini Pak Basri terima cuma Rp 750.000, hari ini dapat terima itu Rp 1.250.000 per bulan ditambah Rp 250.000 untuk kelompok tani yang ada di seputaran penangkaran maleo," ucapnya.
"Untuk proyek yang berupa item bangunan itu sudah disetujui kemarin, tinggal nunggu eksekusinya, kemungkinan habis hari raya baru bekerja," tambahnya.
Bripka Gaguk berharap penangkaran maleo itu ke depannya bisa menjadi tempat wisata pendidikan. Hasilnya, kata dia, untuk masyarakat setempat yang tinggal di sekitar tempat penangkaran maleo.
"Kalau wisata maleo ini sudah selesai dibuat akses jembatan, bangunan-bangunannya itu, jadi wisata edukasi yang bisa menghasilkan. Kan nggak mungkin dari perusahaan ini selamanya akan membiayai Bapak Basri, makanya saya harus berusaha bagaimana penangkaran maleo ini bisa menghasilkan income untuk pembiayaan penjaga maleo dan mungkin kalau ada kerusakan (fasilitas) segala macam," imbuhnya.
(fas/knv)

















































