Akibat Perang Membara, Warga RI Batal Mudik Lebaran

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah mencatat, warga Indonesia ternyata pernah tak bisa mudik karena perang yang berkecamuk pada masa awal kemerdekaan. Salah satunya terjadi saat Idul Fitri pada 28 Agustus 1946. Pada masa itu, tradisi pulang ke kampung halaman sebenarnya sudah mulai berkembang, tetapi konflik bersenjata membuat banyak orang terpaksa membatalkan perjalanan.

Indonesia saat itu baru setahun merdeka, namun kondisi politik dan keamanan masih sangat tidak stabil. Belanda dan Inggris masih menguasai sejumlah kota strategis di Jawa. Di berbagai daerah, kontak senjata antara pejuang Republik dan pasukan NICA terus terjadi, bahkan bertepatan dengan momentum hari raya Idul Fitri.

Koran Kedaulatan Rakyat edisi 30 Agustus 1946 melaporkan, di Yogyakarta puluhan tentara Belanda masuk dari pelabuhan beberapa hari sebelum Lebaran. Kehadiran pasukan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga. Mobilitas masyarakat pun terganggu karena banyak orang takut terjadi pertempuran di lingkungan mereka.

Situasi serupa juga terjadi di beberapa daerah lain. Kantor berita Antara pada 30 Agustus 1946 memberitakan, pada malam menjelang Idul Fitri terjadi pertempuran antara pasukan Belanda dan rakyat di Bogor. Bentrokan tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu, termasuk perjalanan ke kampung halaman. Dalam kondisi seperti itu, banyak warga akhirnya tidak bisa mudik dan merayakan Lebaran dengan leluasa.

Ketegangan perang juga berdampak pada pelaksanaan ibadah. Di Jakarta pada 1948, misalnya, pelaksanaan salat Id sempat dihalau tentara Belanda karena situasi keamanan yang memanas. Saat itu, salat Id direncanakan digelar di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 atau lokasi pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tentara Belanda meminta umat Islam memindahkan salat ke Lapangan Gambir yang dianggap lebih luas.

Namun pada hari pelaksanaan, ribuan warga tetap berdatangan. Dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Pemberontakan PKI 1948 (1977), A.H. Nasution menulis, polisi Belanda sempat menggeledah beberapa orang, tetapi tindakan itu tidak bisa diteruskan karena besarnya jumlah masyarakat yang hadir.

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa mudik Lebaran yang kini menjadi tradisi tahunan tidak selalu berjalan mulus. Pada masa perang kemerdekaan, konflik dan situasi keamanan sering kali membuat warga harus merayakan hari raya dalam kondisi serba terbatas.

(mfa)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |