6 Fakta Ekonomi RI Jelang Lebaran: Ada yang Ngeri, Ada Juga Bahagia

6 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

20 March 2026 10:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi ekonomi Indonesia menjelang Lebaran 2026 menunjukkan gambaran yang beragam.

Kaum Muslimin Indonesia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari yang berbeda yakni sebagian pada hari ini, Jumat (20/3/2026) dansebagian Sabtu (21/3/2026). Lebaran bagi Indonesia adalah berkah karena menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dari kota hingga desa.

Menjelang Lebaran, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan hal yang berbeda.

Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun ini diprakirakan membaik, ditopang oleh permintaan domestik yang meningkat saat Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri. Keyakinan konsumen juga masih berada di zona optimistis, sementara penjualan ritel mulai meningkat seiring naiknya aktivitas belanja masyarakat.

Namun di sisi lain, tekanan inflasi meningkat cukup tajam, rupiah masih dalam tren pelemahan, dan ketidakpastian global kembali meninggi akibat perang di Timur Tengah. Karena itu, kondisi ekonomi Indonesia menjelang Lebaran tahun ini tetap perlu dibaca secara hati-hati, terutama dari sisi daya beli, stabilitas harga, dan ketahanan eksternal.

Berikut ini adalah beberapa indikator perekonomian terakhir menjelang Lebaran 2026.

1. Pertumbuhan Ekonomi

Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik menjelang Lebaran 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11%, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang sebesar 5,03%. Sementara itu, pada triwulan IV-2025, ekonomi tumbuh 5,39% secara tahunan. Capaian tersebut menjadi modal awal yang cukup kuat untuk memasuki tahun 2026.

Bank Indonesia juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 meningkat dan terutama ditopang oleh permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga diprakirakan naik seiring meningkatnya permintaan terkait Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), didukung oleh pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), belanja sosial pemerintah, serta berbagai insentif lainnya.

Selain konsumsi, investasi juga diprakirakan tetap baik. Bank Indonesia (BI) melihat investasi masih didorong oleh akselerasi investasi pemerintah, termasuk melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan investasi Danantara. Artinya, menjelang Lebaran tahun ini, ekonomi domestik masih mendapat dorongan dari dua mesin utama, yakni konsumsi rumah tangga dan investasi.

Meski begitu, Bank Indonesia mengingatkan bahwa memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah tetap perlu diantisipasi. Karena itu, sinergi kebijakan pemerintah, Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan lain terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga dalam kisaran 4,9%-5,7%.

2. Inflasi

Tekanan inflasi menjadi salah satu indikator yang paling menonjol menjelang Lebaran 2026. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 4,76% secara tahunan. Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan harga sudah jauh lebih tinggi dibandingkan fase inflasi rendah pada tahun lalu.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa tingginya inflasi Februari 2026 terutama dipengaruhi faktor temporer, yakni base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga 50% pada Januari dan Februari 2025. Jadi, lonjakan inflasi tahunan saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan lonjakan harga yang bersifat luas, melainkan juga dipengaruhi basis perbandingan yang rendah pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain, inflasi inti masih relatif terjaga di level 2,63% secara tahunan. Ini menunjukkan bahwa tekanan harga dari sisi permintaan inti belum melonjak berlebihan. Sementara itu, inflasi kelompok volatile food tercatat 4,64% secara tahunan, namun masih dinilai cukup terjaga di tengah meningkatnya permintaan pada periode Imlek dan Ramadan, serta adanya gangguan pasokan akibat faktor cuaca.

Ke depan, Bank Indonesia memandang inflasi IHK pada 2026 dan 2027 tetap akan berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%, meski lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya karena prospek kenaikan harga komoditas global. Menjelang Lebaran, kondisi ini penting dicermati karena konsumsi masyarakat biasanya meningkat tajam, terutama untuk makanan, minuman, sandang, dan transportasi.

3. Nilai Tukar Rupiah

Dari sisi pasar keuangan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak di level yang lemah menjelang Lebaran. Pada penutupan perdagangan Selasa (17/3/2026), rupiah berada di level Rp16.975/US$. Meski sempat menguat tipis0,06% dibanding hari sebelumnya, level tersebut tetap menunjukkan bahwa rupiah masih berada dekat area psikologis Rp17.000/US$. 

Pergerakan rupiah ini tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah.

Bank Indonesia mencatat bahwa pada Maret 2026, investasi portofolio mengalami net outflows sebesar US$1,1 miliar, dipicu meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum benar-benar hilang, karena sentimen global masih sangat dominan.

Meski demikian, ketahanan eksternal Indonesia masih relatif terjaga. Bank Indonesia mencatat aliran modal dan finansial pada Januari-Februari 2026 secara kumulatif masih membukukan net inflows sebesar US$1,6 miliar, terutama ditopang aliran masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain itu, posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 juga tetap kuat di level US$151,9 miliar, setara 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Artinya, walaupun rupiah masih berada dalam tekanan, Indonesia masih memiliki bantalan eksternal yang cukup kuat. Namun, kenaikan harga minyak global dan melambatnya prospek ekonomi dunia tetap perlu diperhatikan karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan.

4. Suku Bunga BI

Bank Indonesia baru saja kembali menahan suku bunga acuannya dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diumumkan pada Selasa (17/3/2026). BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,00% dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.

Keputusan ini menunjukkan bahwa bank sentral masih berupaya menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi.

Menjelang Lebaran, arah kebijakan ini menjadi penting karena BI harus menghadapi kombinasi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi perlu terus dijaga, terutama agar momentum konsumsi domestik tetap kuat. Namun di sisi lain, inflasi meningkat, rupiah masih lemah, dan risiko global bertambah akibat konflik Timur Tengah.

Karena itu, BI menekankan pentingnya respons kebijakan yang pre-emptive dan sinergi yang lebih kuat dengan pemerintah. Posisi suku bunga yang tetap ini memberi sinyal bahwa BI belum ingin terlalu agresif melonggarkan kebijakan, tetapi juga masih berusaha menjaga momentum pertumbuhan agar tidak kehilangan tenaga di tengah tekanan eksternal.

5. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

Dari sisi persepsi rumah tangga, keyakinan konsumen masih berada dalam zona optimistis. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan IKK Februari 2026 berada di level 125,2. Angka ini masih jauh di atas level 100 yang menandakan konsumen tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi.

Kuatnya keyakinan konsumen ini sejalan dengan gambaran yang disampaikan Bank Indonesia bahwa permintaan domestik pada triwulan I-2026 meningkat. Momen Ramadan dan Lebaran, pencairan THR, bantuan sosial pemerintah, dan berbagai insentif dinilai ikut menopang optimisme rumah tangga.

Ini penting karena keyakinan konsumen biasanya berhubungan erat dengan keputusan belanja masyarakat. Selama optimisme tetap tinggi, konsumsi rumah tangga berpeluang tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional pada periode Ramadan dan Idulfitri.

6. Indeks Penjualan Ritel (IPR)

Indikator konsumsi masyarakat juga terlihat dari penjualan ritel. Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil Februari 2026 tumbuh 6,9% secara tahunan dan naik 4,4% secara bulanan. Kinerja ini didorong oleh peningkatan penjualan di mayoritas kelompok barang, terutama suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.

Kenaikan ini juga sejalan dengan penilaian Bank Indonesia bahwa konsumsi rumah tangga meningkat menjelang HBKN. Ramadan dan persiapan Idulfitri menjadi pendorong utama belanja masyarakat, apalagi pada periode ini biasanya kebutuhan rumah tangga, makanan, pakaian, hingga transportasi meningkat.

Dengan demikian, penjualan ritel memberi sinyal bahwa konsumsi domestik mulai bergerak lebih kuat menjelang Lebaran 2026. Ini menjadi kabar positif bagi ekonomi nasional, karena konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Secara keseluruhan, kondisi ekonomi Indonesia menjelang Lebaran 2026 masih menunjukkan fondasi yang relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada awal tahun diprakirakan membaik, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi, sementara keyakinan konsumen serta penjualan ritel juga masih menguat. Namun, tingginya inflasi, lemahnya rupiah, serta meningkatnya risiko global akibat perang di Timur Tengah menunjukkan bahwa stabilitas tetap harus dijaga dengan hati-hati.

Dengan kata lain, ekonomi Indonesia memasuki musim Lebaran dengan dorongan konsumsi yang cukup kuat, tetapi di saat yang sama tetap dibayangi tekanan harga dan ketidakpastian eksternal.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |