500 Orang Tewas di Demo Iran, Trump Siapkan Serangan Militer

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang mengguncang Iran masih terus terjadi. Bahkan dalam update terbaru, Senin (12/1/2026), dilaporkan lebih dari 500 korban jiwa tewas.

Mengutip AFP dan Reuters, kelompok hak asasi manusia HRANA yang berbasis di AS melaporkan sebanyak 490 demonstran dan 48 personel keamanan tewas dalam bentrokan yang terjadi selama dua pekan terakhir hingga Minggu. Selain itu, lebih dari 10.600 orang telah ditangkap di tengah pemadaman akses internet total oleh pemerintah Teheran.

Situasi juga semakin mencekam setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan tengah mempertimbangkan opsi militer serius untuk mengintervensi kerusuhan tersebut. Di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menegaskan bahwa Iran kemungkinan besar telah melewati "garis merah" terkait pembunuhan warga sipil.

"Kami sedang melihat ini dengan sangat serius," ujar Trump.

"Militer tengah memantau, dan kami menyiapkan beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan segera membuat keputusan," tambanya.

Bocoran dari The Wall Street Journal menyebutkan sejumlah opsi disiapkan Trump. Mulai mencakup serangan militer langsung, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi ekonomi, hingga penyediaan bantuan akses internet bagi pihak anti-pemerintah.

Menanggapi ancaman Washington, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan AS agar tidak salah langkah. Mantan komandan Garda Revolusi ini menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika diserang.

"Mari kita perjelas: Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta seluruh pangkalan militer dan kapal perang AS akan menjadi target sah kami," ancam Qalibaf.

Harga Minyak Naik

Ketegangan di salah satu negara produsen minyak utama ini langsung memicu kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent naik menjadi US$ 63,65 (Rp 1.070 juta) per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak ke angka US$ 59,42 (Rp 1 juta) per barel.

Pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan dari Iran. Meskipun, upaya AS untuk mempercepat ekspor minyak dari Venezuela pasca penangkapan Presiden Maduro sedikit menahan laju kenaikan harga.

Demonstrasi yang bermula pada 28 Desember lalu ini dipicu oleh lonjakan harga kebutuhan pokok. Tak lama, demo terus memanas dan akhirnya berubah menjadi gerakan politik melawan kepemimpinan ulama Iran.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan ini. Ia meminta warga tidak terprovokasi.

"Saya meminta kepada keluarga: Jangan biarkan anak-anak muda kalian bergabung dengan para perusuh dan teroris yang membakar masjid serta menyerang properti publik," ujar Pezeshkian dalam wawancara televisi.

(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |