Susi Setiawati, CNBC Indonesia
13 January 2026 12:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengkaji aturan penghapusan bank KBMI I dengan modal inti minimal Rp6 triliun. Kami mencatat setidaknya ada lima bank digital yang modalnya belum memenuhi syarat.
Aturan terkait modal inti bank tersebut isampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bersama pada 10 November 2025.
Dian menjelaskan, OJK memandang penguatan fundamental dan konsolidasi menjadi langkah penting bagi bank-bank berskala kecil. Agenda tersebut dinilai perlu dijalankan secara terukur dan mengedepankan prinsip kehati-hatian sebagai bagian dari strategi jangka menengah penguatan industri perbankan.
Ia menegaskan, kebijakan ini masih bersifat imbauan dengan pendekatan persuasif. OJK juga berkomitmen memberikan ruang waktu yang memadai bagi bank-bank kecil untuk meningkatkan permodalan atau menempuh langkah konsolidasi.
Ke depan, OJK akan mencermati perkembangan implementasinya. Apabila diperlukan, regulator tidak menutup kemungkinan untuk merumuskan ketentuan yang lebih spesifik melalui penerbitan peraturan OJK atau kebijakan lanjutan lainnya, kata Dian.
Jadi, sejauh ini memang belum ada kepastian kapan dilaksanakan aturan itu, tetapi pasar menerka setidaknya butuh sampai 2028 untuk KBMI I dihapuskan dan minimal semua bank di RI punya modal inti Rp6 triliun.
Secara khusus kami melihat ada empat bank digital yang masih belum memenuhi syarat itu, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO). Berikut data-nya :
Dari data di atas kami juga memasukkan PT Superbank Indonesia Tbk (SUPA) yang terpantau sudah berhasil naik kelas jadi KBMI II setelah IPO, dari posisi ekuitas sebelumnya Rp5,32 triliun, sekarang sudah menjadi Rp7,61 triliun.
Sementara itu empat lainnya masih belum memenuhi standar untuk mencapai KBMI II. Ada BBYB dengan modal inti kisaran Rp4 triliun, sementara tiga lain-nya masih di bawah itu, alias di kisaran Rp3 triliun.
Secara organik untuk mencapai modal inti Rp6 triliun, dibutuhkan Rp2-3 triliun laba yang harus dihasilkan dalam periode dua sampai tiga tahun mendatang jika memang rencana-nya maksimal diimplementasi 2028.
Kami menilai untuk mencapai itu akan relatif sulit, apalagi bank digital baru bisa mencetak laba itu baru beberapa kuartal ke belakang, tak sedikit yang masih mencetak akumulasi kerugian juga.
Rugi masalah lalu itu merupakan warisan dari fase awal digitalisasi ketika biaya akuisisi nasabah, teknologi, dan promosi sangat agresif. Walaupun kini sudah laba, sebagian keuntungan itu secara akuntansi lebih dulu "menutup luka lama", bukan langsung menambah modal bersih secara signifikan.
Meski begitu, kondisi bank digital yang sudah cetak laba, artinya bisnis model-nya sudah ke arah yang benar, mereka secara operasional betul-betul, tidak sekadar bakar uang.
BBYB misalnya sudah mencatat laba yang relatif besar, disusul AMAR dan BANK yang mulai menunjukkan tren profitabilitas lebih stabil. Namun, laba ini masih belum cukup kuat untuk menjadi mesin pertumbuhan modal yang signifikan dalam waktu singkat.
Pertumbuhan profit yang kuat itu butuh strategi yang agresif seperti mengenakan suku bunga tinggi dalam hal pendanaan atau kredit dengan suku bunga atraktif dalam jangka pendek yang biasa dikombinasikan dengan pemain e-commerce, biasa-nya disebut buy now pay later (BNPL). Namun, kami nilai ini masih sulit untuk diandalkan sebagai kontributor utama.
Cara paling cepat dan masuk akal adalah dengan melakukan aksi korporasi, bisa saja melalui merger, private placement, atau malah right issue. Dalam konteks ini, laba yang mulai muncul bukanlah garis finis, melainkan tiket masuk untuk negosiasi yang lebih kuat dengan investor atau calon mitra.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)


















































