Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana impor 105.000 unit pick-up dari India dalam bentuk completely built up (CBU) memicu kekhawatiran di kalangan industri komponen dalam negeri. Salah satu sektor yang disebut paling terdampak adalah industri kaca otomotif, baik di sisi hulu maupun hilir.
Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus H. Gunawan menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang dengan mempertimbangkan kapasitas industri nasional yang masih belum termanfaatkan optimal.
"Kami melihat rencana impor 105.000 unit kendaraan CBU ini perlu dianalisis secara komprehensif. Industri kaca pengaman kendaraan bermotor dan kaca lembaran sebagai bahan bakunya berpotensi terdampak langsung," ujar Yustinus dalam keterangannya dikutip Senin (23/2/2026).
Ia memaparkan, industri kaca lembaran nasional saat ini memiliki kapasitas terpasang mencapai 2,9 juta ton per tahun yang dioperasikan oleh empat perusahaan. Namun, tingkat utilisasinya pada 2025 baru mencapai 66,9%.
Di sisi hilir, terdapat sepuluh perusahaan kaca pengaman otomotif dengan kapasitas terpasang 90.293 ton per tahun atau setara 2,25 juta set kaca kendaraan roda empat atau lebih. Sayangnya, utilisasi sektor ini masih berada di angka 42%.
"Struktur ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi nasional masih memiliki ruang optimalisasi yang sangat besar. Artinya, ketika permintaan meningkat, industri kita sebenarnya siap menyerapnya," tegasnya.
Yustinus menjelaskan, permintaan kendaraan bermotor domestik memiliki keterkaitan langsung terhadap kinerja industri kaca. Setiap unit kendaraan roda empat atau lebih membutuhkan kaca pengaman yang dipasok dari industri dalam negeri.
Menurutnya, target produksi 1 juta unit kendaraan pada 2026 akan sangat menentukan serapan kaca pengaman nasional. Namun, jika 105.000 unit diimpor dalam bentuk utuh, maka ada potensi pengurangan permintaan komponen lokal.
"Jika dihitung, impor 105.000 unit CBU itu akan mengurangi sekitar 10% permintaan kaca pengaman untuk mendukung produksi 1 juta unit kendaraan pada 2026. Ini bukan angka kecil bagi industri yang utilisasinya masih 42%," jelas Yustinus.
Pengurangan permintaan tersebut bukan hanya berdampak pada produsen kaca pengaman, tetapi juga sektor kaca lembaran sebagai pemasok utama bahan baku.
"Permintaan kendaraan bermotor di dalam negeri memiliki efek berantai. Ketika produksi dalam negeri ditekan oleh impor CBU, maka sektor hulu seperti kaca lembaran ikut terdampak," katanya.
Yustinus pun berharap pemerintah mempertimbangkan kembali desain kebijakan impor agar tetap selaras dengan agenda industrialisasi dan peningkatan nilai tambah domestik.
"Kami tidak menolak impor, tetapi kebijakan harus berbasis pada struktur kapasitas industri nasional. Jika ruang produksi dalam negeri masih besar, maka optimalisasi industri lokal seharusnya menjadi prioritas," tutupnya.
Seperti diketahui, BUMN Pangan, PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) melakukan komitmen order dengan 2 produsen otomotif India, Mahindra & Mahindra (Mahindra) dan Tata Motors, untuk pengadaan 35.000 unit dan 70.000 unit pikap dan truk yang akan digunakan sebagai sarana dan prasarana Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Foto: Mobil pickup Tata Yodha. (Dok. Tata)
Mobil pickup Tata Yodha. (Dok. Tata)
(dce)
Addsource on Google


















































