Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang waktu berbuka puasa, deretan pedagang takjil memenuhi pinggir jalan.
Aroma gorengan yang hangat, es buah berwarna-warni yang menyegarkan, hingga aneka makanan manis yang tertata rapi di etalase sering kali membuat siapa saja tergoda.
Tanpa disadari, banyak orang membeli lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan. Fenomena ini dikenal sebagai "lapar mata".
Saat tubuh menahan lapar dan haus sepanjang hari, kemampuan menahan keinginan cenderung menurun. Semua makanan terlihat menarik dan terasa seperti kebutuhan mendesak.
Akibatnya, niat awal hanya membeli satu atau dua menu berubah menjadi lima hingga enam jenis takjil. Karena itu, memahami tips agar tidak membeli takjil berlebihan selama Ramadan menjadi penting.
Bukan hanya untuk menghemat pengeluaran, tetapi juga untuk melatih pengendalian diri, menjaga pola makan, dan mempertahankan nilai kesederhanaan dalam beribadah.
Kenapa Orang Cenderung Beli Takjil Berlebihan?
1. Efek Lapar terhadap Pengambilan Keputusan
Saat lapar, kemampuan berpikir rasional menurun. Otak lebih responsif terhadap rangsangan visual, terutama makanan. Kondisi ini membuat seseorang lebih impulsif dan mudah tergoda membeli hal yang sebenarnya tidak direncanakan.
Dalam perilaku konsumen, berbelanja saat lapar terbukti meningkatkan pembelian impulsif. Hal yang sama juga terjadi ketika berburu takjil menjelang waktu berbuka.
2. Euforia Suasana Ramadan
Pasar takjil merupakan fenomena musiman yang hanya muncul setahun sekali. Banyak orang merasa ingin menikmati momen tersebut dengan mencoba berbagai jenis makanan.
Selain itu, tren makanan viral di media sosial juga memicu rasa penasaran. Efek FOMO (fear of missing out) membuat seseorang merasa sayang jika tidak ikut mencicipi menu yang sedang populer.
3. Harga Terlihat Murah, Tapi Akumulasinya Besar
Harga satuan takjil memang relatif terjangkau. Gorengan hanya beberapa ribu rupiah, sementara minuman segar berkisar Rp8.000-Rp15.000. Namun jika membeli banyak jenis setiap hari, total pengeluaran bisa meningkat signifikan.
Misalnya, belanja Rp40.000 per hari selama 30 hari berarti menghabiskan sekitar Rp1,2 juta. Tanpa disadari, kebiasaan kecil ini menjadi sumber pemborosan selama Ramadan.
Dampak Beli Takjil Berlebihan bagi Keuangan
1. Pengeluaran Ramadan Membengkak
Ramadan biasanya diikuti dengan berbagai kebutuhan tambahan, seperti zakat, sedekah, belanja bahan makanan, hingga persiapan Lebaran.
Jika pembelian takjil tidak dikontrol, anggaran bulanan bisa terganggu.
Banyak keluarga merasakan uang habis lebih cepat selama Ramadan meski penghasilan tidak berubah.
2. Makanan Terbuang (Mubazir)
Dampak lain yang sering terjadi adalah makanan tidak habis dikonsumsi. Saat berbuka, tubuh sebenarnya tidak membutuhkan porsi besar sekaligus. Air putih, kurma, dan sedikit makanan ringan sering kali sudah cukup membuat perut terasa kenyang.
Akibatnya, sebagian takjil yang dibeli hanya tersisa atau bahkan tidak disentuh sama sekali.
Jika sisa makanan senilai Rp10.000-15.000 terjadi setiap hari, total pemborosan bisa mencapai Rp300.000-Rp450.000 selama satu bulan.
Selain kerugian finansial, makanan yang terbuang juga berarti pemborosan sumber daya, mulai dari bahan baku, tenaga produksi, hingga energi yang digunakan dalam proses pembuatannya.
3. Risiko Kesehatan
Berbuka dengan terlalu banyak makanan manis dan gorengan dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pencernaan, lonjakan gula darah, rasa lemas setelah makan, hingga kenaikan berat badan.
Padahal, Ramadan seharusnya menjadi momen untuk memperbaiki pola makan dan melatih kedisiplinan dalam mengatur konsumsi.
10 Tips Agar Tidak Membeli Takjil Berlebihan
1. Buat Daftar Sebelum Berangkat
Tentukan terlebih dahulu apa yang ingin dibeli, misalnya satu minuman dan satu camilan. Dengan daftar sederhana, Anda memiliki batasan yang jelas sehingga tidak mudah tergoda oleh pilihan lain.
2. Tetapkan Budget Harian
Menentukan anggaran harian, misalnya Rp20.000, membantu Anda lebih selektif dalam memilih. Batas ini juga mencegah pembelian impulsif yang sering terjadi saat melihat banyak pilihan menarik.
3. Belanja Sebelum Terlalu Lapar
Jika memungkinkan, beli takjil lebih awal. Kondisi lapar yang berlebihan dapat memicu keputusan emosional dan membuat Anda membeli lebih banyak dari yang direncanakan.
4. Prioritaskan yang Benar-benar Akan Dikonsumsi
Sebelum membeli, tanyakan pada diri sendiri apakah makanan tersebut pasti akan dimakan. Hindari membeli hanya karena terlihat menarik.
5. Kombinasikan Beli dan Masak Sendiri
Tidak semua menu harus dibeli. Anda bisa menyiapkan minuman atau camilan sederhana di rumah, seperti es teh, kolak, atau gorengan. Dengan begitu, pembelian hanya untuk pelengkap.
6. Gunakan Batas Pengeluaran Harian
Gunakan metode batas pengeluaran harian. Bawa uang sesuai anggaran atau pantau pengeluaran melalui aplikasi keuangan agar tetap terkontrol.
7. Hindari Ikut Tren Tanpa Pertimbangan
Mencoba makanan baru tidak masalah, tetapi pastikan tetap sesuai kebutuhan dan anggaran. Jangan sampai rasa penasaran membuat pengeluaran membengkak.
8. Catat dan Evaluasi Pengeluaran
Lakukan evaluasi setiap minggu. Jika pengeluaran takjil terlalu besar, segera sesuaikan strategi di minggu berikutnya.
9. Beli dalam Porsi Kecil
Lebih baik membeli sedikit terlebih dahulu. Jika masih kurang, Anda bisa menambah di lain waktu. Cara ini membantu menghindari makanan terbuang.
10. Ingat Tujuan Ramadan
Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Mengontrol keinginan belanja juga merupakan bagian dari latihan menahan hawa nafsu, tidak hanya dalam hal makan dan minum.
Strategi Mengatur Keuangan Ramadan
Agar pengeluaran tetap stabil, Anda bisa membagi anggaran bulanan secara sederhana. Misalnya dari penghasilan Rp5.000.000:
-
50% kebutuhan rutin
-
20% tabungan
-
10% zakat dan sedekah
-
10% kebutuhan tambahan Ramadan
-
10% persiapan Lebaran
Dari pos kebutuhan tambahan Ramadan, alokasikan maksimal 30-40% untuk takjil. Dengan perencanaan seperti ini, pengeluaran tetap terkendali tanpa mengurangi kenyamanan berbuka.
Cara Mengurangi Risiko Mubazir
Agar makanan tidak terbuang, biasakan untuk:
-
Membeli sesuai kebutuhan
-
Menghindari terlalu banyak variasi dalam satu waktu
-
Menyimpan makanan yang masih layak untuk sahur atau berbuka keesokan hari
-
Mengutamakan kualitas dan nilai gizi daripada jumlah
Pendekatan ini membantu menciptakan kebiasaan konsumsi yang lebih bijak selama Ramadan.
Dampak Positif Jika Konsumsi Lebih Terkontrol
Jika pembelian takjil dikelola dengan baik, manfaat yang dirasakan antara lain:
-
Pengeluaran lebih stabil
-
Tidak ada makanan terbuang
-
Pola makan lebih sehat
-
Anggaran bisa dialihkan untuk tabungan atau sedekah
-
Nilai kesederhanaan Ramadan lebih terasa
Pada akhirnya, menghindari pemborosan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bagian dari membangun kebiasaan hidup yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Ramadan bukan tentang seberapa banyak yang dikonsumsi, tetapi tentang bagaimana mengelola diri agar tetap seimbang baik secara finansial, kesehatan, maupun spiritual.
(dag/dag)
Addsource on Google


















































