Warga RI Ramai-Ramai Beli Mobil Listrik, Incar Hemat dan Bebas BBM?

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

11 May 2026 15:25

Jakarta, CNBC Indonesia- Penjualan mobil di Indonesia tiba-tiba melonjak pada April 2026. Minat pembelian terhadap mobil listrik meningkat tajam.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat wholesales mencapai 80.776 unit. Angka ini naik 55% dibanding April tahun lalu yang berada di 52.108 unit. Dibanding Maret 2026, kenaikannya juga besar, mencapai 31,8%.

Kenaikan itu muncul setelah pasar otomotif sempat melambat saat periode Lebaran. Pada Maret lalu, distribusi mobil turun 13,8% dibanding bulan sebelumnya karena aktivitas dealer dan pembelian masyarakat tertahan libur panjang. April menjadi titik balik karena distribusi kendaraan kembali normal dan konsumen mulai masuk lagi ke showroom.

Dari sisi retail sales atau penjualan dealer ke konsumen, kondisinya ikut menguat. Penjualan ritel April mencapai 75.730 unit, naik 13,7% dibanding Maret. Secara tahunan, retail sales tumbuh 30,2%. Dalam empat bulan pertama 2026, wholesales nasional sudah mencapai 289.787 unit. Naik 12,5% dibanding periode sama tahun lalu.

Penjualan Mobil Listrik Naik, Karena Murah Apa Efisien?

Di tengah lonjakan itu, satu perubahan mulai terlihat di pasar otomotif Indonesia, minat terhadap mobil listrik terus naik.

Tekanan biaya hidup, harga BBM, cicilan kendaraan, sampai ongkos operasional harian membuat sebagian konsumen mulai menghitung ulang biaya memiliki mobil bensin.

Perhitungan itu makin terasa ketika harga bahan bakar bergerak tinggi dalam dua tahun terakhir. Mobil listrik menawarkan biaya pengisian energi yang lebih murah dibanding bensin. Sejumlah studi internasional memperlihatkan biaya operasional kendaraan listrik lebih rendah karena konsumsi energi lebih efisien dan perawatan mesin lebih sederhana.

Di Inggris, riset Compare the Market memperkirakan biaya kepemilikan mobil listrik rata-rata lebih hemat £528 dibanding mobil bensin. Penghematan datang dari biaya energi dan perawatan kendaraan yang lebih rendah. Pajak kendaraan listrik juga lebih ringan dibanding mobil konvensional pada beberapa negara.

Pola serupa mulai muncul di Indonesia. Harga BBM nonsubsidi yang cenderung tinggi membuat konsumen kelas menengah mulai memperhitungkan biaya harian kendaraan. Dalam simulasi kasar, biaya isi daya mobil listrik untuk jarak tempuh harian masih lebih murah dibanding konsumsi bensin kendaraan konvensional dengan kapasitas mesin menengah.

Terlebih, pemerintah sudah menaikkan harga BBM non-subsidi naik tiga bulan beruntun yang pastinya berdampak terhadap pengeluaran.

Faktor pajak ikut memberi dorongan. Pemerintah Indonesia masih memberikan sejumlah insentif untuk kendaraan listrik, mulai dari Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sampai pajak kendaraan yang lebih rendah di beberapa daerah. Insentif ini membuat selisih harga dengan mobil bensin perlahan mengecil, terutama untuk segmen entry level.

Namun hitungan mobil listrik tidak sesederhana biaya charging yang murah. Harga beli kendaraan listrik masih relatif mahal karena baterai menjadi komponen utama dengan biaya tinggi. Konsumen juga perlu menyiapkan biaya tambahan seperti instalasi home charger, peningkatan daya listrik rumah, hingga potensi penggantian baterai dalam jangka panjang.

Sejumlah bank dan lembaga pembiayaan mulai membaca perubahan arah pasar ini. Kredit kendaraan listrik semakin agresif ditawarkan karena permintaan mulai tumbuh. Tenor panjang dan DP ringan menjadi strategi untuk menarik konsumen yang ingin menekan pengeluaran bulanan di tengah biaya hidup yang terus naik.

Di sisi lain, pasar mobil bekas juga ikut bergerak. Mobil bensin dengan konsumsi BBM boros mulai menghadapi tekanan harga jual kembali. Konsumen kini semakin sensitif terhadap biaya operasional harian, terutama setelah harga energi global bergerak liar dalam beberapa tahun terakhir.

Gaikindo sendiri menargetkan penjualan mobil nasional sepanjang 2026 mencapai 850 ribu unit. Target itu naik 5,8% dibanding realisasi tahun lalu sebesar 803.687 unit. Jika tren efisiensi konsumsi terus menguat, pasar otomotif Indonesia kemungkinan akan bergerak ke fase baru: konsumen membeli kendaraan dengan kalkulator pengeluaran di tangan, bukan lagi sekadar melihat merek dan desain.

Tren Global

Kenaikan penjualan mobil listrik tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi tren global.

Benchmark Mineral Intelligence,  lembaga riset yang mengkhususkan diri pada analisis rantai pasok kendaraan listrik (EV) dan baterai, melaporkan bahwa sebanyak 2,1 juta kendaraan listrik terjual secara global pada Desember 2025.

Dengan demikian, total penjualan sepanjang 2025 mencapai 20,7 juta unit EV pada segmen mobil penumpang dan kendaraan ringan. Penjualan pada 2025 melonjak 20%.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |