Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan aksi saling serang untuk hari kedua berturut-turut pada Minggu. Ini terjadi saat Teheran menyatakan pembicaraan dengan Oman mengenai Selat Hormuz akan terus berlangsung.
Langkah ini dilakukan di tengah upaya menghidupkan kembali negosiasi mengenai kesepakatan gencatan senjata sementara. Sebelumnya negosiasi terganggu akibat saling serang antara kedua negara.
Belum diketahui secara pasti alasan AS menghentikan serangannya setelah hampir dua pekan menggempur wilayah pesisir dan infrastruktur Iran. Perlu diketahui eskalasi diklaim AS terjadi karena Iran menembaki kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Hingga berita diturunkan Senin (27/7/2026), Kementerian Perang AS (Pentagon) belum memberikan tanggapan atas pertanyaan terkait penghentian serangan tersebut. Namun Gedung Putih sudah memberi keterangan.
"Presiden Donald Trump selalu konsisten mengatakan bahwa ia lebih memilih solusi diplomatik, tetapi tetap membuka semua opsi jika Iran terus melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu-sekutu kami," kata Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung.
"Akan lebih bijaksana jika Iran mengupayakan penyelesaian melalui negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi," tambahnya.
Sementara itu, juru bicara militer Iran mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa karena AS menghentikan serangannya selama dua malam terakhir, Iran juga kini melakukan hal yang sama. Dalam beberapa hari terakhir, Iran sempat melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara di kawasan yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, di mana salah satu serangan menewaskan sedikitnya tiga orang di Yordania.
Sementara itu, seorang pejabat kawasan yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan "proses diplomasi masih berlangsung". Menurutnya, jeda serangan dari kedua belah pihak merupakan "sinyal positif" yang membantu upaya meredakan ketegangan.
Pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan baik AS maupun Iran ingin kembali menjalankan kesepakatan gencatan senjata sementara, yang ditandatangani pada pertengahan Juni lalu. Kompromi yang sedang dinegosiasikan berfokus pada mekanisme pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz oleh Iran dengan pembatasan yang lebih longgar bagi kapal-kapal yang melintas.
Masa berlaku 60 hari dalam kesepakatan sementara tersebut kini telah memasuki paruh kedua. Namun, sejumlah isu utama yang seharusnya dinegosiasikan, terutama program nuklir Iran yang menjadi sumber utama ketegangan, masih belum dibahas secara substansial karena mediator berupaya menjaga kedua pihak tetap berada di meja perundingan.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran tidak hanya terjadi di Selat Hormuz, tetapi juga di Selat Bab al-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Pekan lalu, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengancam akan memblokade jalur pelayaran Arab Saudi di kawasan tersebut.
Mengutip Al-Jazeera, Wakil Menteri Luar Negeri Abdulwahid Abu Ras mengatakan Arab Saudi telah gagal mencapai tujuannya di Yaman setelah bergantung pada AS. Ia menambahkan bahwa mereka juga akan gagal dengan bergantung pada "tentara bayaran dan alat-alat lokal".
"Amerika, dengan segala kesombongannya, gagal dalam putaran sebelumnya untuk mencapai tujuannya menaklukkan rakyat Yaman, namun rezim Saudi belum belajar dari kesalahannya," kata Abu Ras.
Ketegangan sempat membuat minyak Brent menembus US$100 akhir pekan kemarin. Sementara itu, ICP dipatok US$70 di APBN RI.
Pembicaraan Selat Hormuz oleh Iran-Oman
Selain pembicaraan dengan AS, Iran juga melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan jalur pelayaran yang aman di Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan pembicaraan menunjukkan kemajuan dan masih terus berlanjut.
Baghaei juga menegaskan status Selat Hormuz tidak berubah. Menurut Teheran, kesepakatan sementara dengan AS masih memberikan kewenangan kepada Iran untuk mengelola lalu lintas pelayaran di jalur tersebut di mana negeri itu juga menolak upaya AS mendukung rute alternatif yang melintas lebih dekat ke wilayah Oman.
Di sisi lain, militer AS pada Sabtu menyatakan blokade laut terhadap Iran yang kembali diberlakukan masih terus berlangsung. Militer AS mengklaim telah mengalihkan 12 kapal dagang, melumpuhkan dua kapal, serta menaiki dua kapal lainnya dalam operasi tersebut.
"Pasukan AS tetap berada dalam kondisi siaga tinggi, fokus, mematikan, dan siap bertindak," tambahnya.
Netanyahu Muncul Lagi
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tiba-tiba muncul lagi merespons perkembangan Timur Tengah. Ini terjadi kala ia dijadwalkan berkunjung ke AS dan bertemu Presiden Donald Trump di Washington pada Selasa.
Keduanya terakhir kali bertemu di Washington pada Februari, beberapa pekan sebelum melancarkan perang terhadap Iran yang menewaskan sejumlah petinggi negara tersebut, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dua hari setelah perang dimulai, kelompok Hizbullah yang didukung Iran meluncurkan serangan ke Israel, yang kemudian dibalas dengan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan.
Sejak saat itu, AS memfasilitasi pembicaraan langsung antara Lebanon dan Israel guna meredakan ketegangan serta mencari jalan untuk melucuti persenjataan Hizbullah. Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, Netanyahu mengatakan dirinya "sepenuhnya" mendukung upaya Trump untuk melemahkan Iran dan mendorong negara tersebut mengakhiri program nuklirnya.
"Jika itu bisa dilakukan tanpa kembali ke pertempuran militer yang intens, tentu itu baik. Mengapa tidak?" ujar Netanyahu.
"Iran akan melakukan kesalahan yang sangat besar," tambahnya memperingatkan bahwa jika Iran kembali menyerang Israel, baik secara langsung maupun melalui kelompok proksinya, maka akan ada balasan Israel.
(sef/sef)
Addsource on Google


















































