Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai mengambil langkah baru dalam kebijakan pertahanannya di Eropa dengan menunda pengiriman tambahan pasukan ke Polandia. Keputusan itu diumumkan Pentagon di tengah dorongan agenda "America First" Trump yang disertai pengurangan ribuan personel militer AS dari kawasan Eropa.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran di kalangan sekutu NATO, terutama saat perang Rusia-Ukraina masih berlangsung dan ancaman terhadap kawasan timur aliansi Barat itu belum mereda.
Pentagon menyatakan penundaan itu menjadi bagian dari pengurangan kekuatan tempur AS di Eropa dari empat brigade tempur menjadi tiga brigade. Setiap brigade tempur dapat mencakup hingga 4.000 tentara lengkap dengan tank dan perlengkapan pendukung dalam jumlah besar.
Trump sejak lama mendesak negara-negara Eropa agar mengambil peran lebih besar dalam pertahanan kolektif mereka sendiri. Namun dalam beberapa pekan terakhir, ia juga disebut geram terhadap apa yang dianggapnya sebagai kurangnya dukungan sekutu utama NATO terhadap perang AS-Israel melawan Iran.
Dalam pernyataannya, Pentagon menyebut Polandia sebagai "sekutu model bagi AS" dan menegaskan bahwa Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth telah menghubungi Wakil Perdana Menteri Polandia Władysław Kosiniak-Kamysz untuk memberikan jaminan bahwa Washington tetap mempertahankan "kehadiran militer yang kuat di Polandia" meskipun terjadi pengurangan personel.
Departemen Pertahanan AS mengatakan keputusan akhir terkait penempatan pasukan di Eropa masih akan ditentukan berdasarkan evaluasi lebih lanjut.
"Departemen Pertahanan akan menentukan disposisi akhir pasukan ini dan pasukan AS lainnya di Eropa berdasarkan analisis lebih lanjut terhadap kebutuhan strategis dan operasional AS, serta kemampuan sekutu kami sendiri untuk berkontribusi terhadap pertahanan Eropa," demikian pernyataan Pentagon, dikutip dari The Washington Post, Rabu (20/5/2026).
Kedutaan Besar Polandia di Washington belum memberikan tanggapan terkait keputusan tersebut.
Langkah pengurangan pasukan ini menimbulkan kecemasan mendalam di kalangan anggota NATO karena Rusia masih melanjutkan perang di Ukraina dan terus dianggap mengancam sisi timur aliansi tersebut.
Pada awal perang Ukraina tahun 2022, pemerintahan Presiden AS saat itu, Joe Biden, mengirim ribuan pasukan tambahan ke Eropa Timur sebagai upaya mencegah Kremlin memperluas ambisi teritorialnya melampaui Ukraina.
Namun kini, pemerintahan Trump justru bergerak ke arah sebaliknya. Tahun lalu Trump menarik pasukan dari Rumania. Bulan ini Pentagon juga mengumumkan rencana penarikan sekitar 5.000 personel militer dari Jerman.
Langkah terhadap Jerman dipandang luas sebagai bentuk hukuman politik setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik perang Iran dan mengatakan Amerika Serikat telah "dipermalukan".
Meski rencana pengurangan pasukan telah disampaikan selama berbulan-bulan, implementasinya tetap memicu keresahan di Kongres AS, baik dari Partai Republik maupun Demokrat.
Pengumuman terbaru Pentagon juga muncul setelah keputusan mendadak Hegseth pekan lalu untuk menghentikan pengerahan brigade tempur berbasis di Texas ke Polandia. Sebagian pasukan bahkan sudah tiba di Polandia ketika keputusan penghentian diumumkan.
Langkah itu disebut mengejutkan pejabat AS maupun Polandia.
Anggota DPR AS dari Partai Republik, Don Bacon, secara terbuka mengkritik keputusan tersebut saat sidang dengar pendapat dengan Kepala Staf Angkatan Darat AS sementara, Jenderal Christopher LaNeve.
"Ini tamparan bagi Polandia. Ini tamparan bagi teman-teman Baltik kita," kata Bacon.
Sebagian tentara dan perlengkapan dari Brigade Tempur Lapis Baja ke-2 Divisi Kavaleri Pertama sebenarnya sudah berada di posisi siap menjalani penugasan sembilan bulan di Polandia. Situasi itu memaksa militer AS menghentikan keberangkatan tambahan dari Fort Hood, Texas, serta mengatur pemulangan ratusan personel yang telanjur tiba di Polandia.
(luc/luc)
Addsource on Google

















































