Trump Kena Batunya, Negara Ini Gebuk Balik AS dengan Tarif 50%

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Kanada memasuki babak baru setelah Ottawa mengumumkan tarif balasan terhadap lebih dari 700 produk asal AS. Nilainya mencapai sekitar US$20 miliar, atau dibuat setara "dollar for dollar" dengan tarif terbaru yang dikenakan Presiden AS Donald Trump terhadap barang-barang Kanada.

Tarif balasan tersebut diumumkan Kanada pada Selasa (25/8/2026) waktu setempat, setelah perundingan dagang kedua negara gagal mencapai kesepakatan. Trump sebelumnya mengenakan tarif 50% terhadap sejumlah produk Kanada pada akhir pekan, termasuk anggur, semen, stik hoki, dan berbagai barang lainnya.

Kanada menetapkan tarif balasan dalam kisaran 15%-50% untuk berbagai produk AS. Barang yang menjadi sasaran mencakup produk susu, makanan laut, peralatan rumah tangga, kayu dan produk kertas, hingga pakaian.

Salah satu tarif terbesar diberlakukan terhadap baja dan aluminium AS. Kanada akan mengenakan bea masuk 50% untuk kedua komoditas tersebut, atau dua kali lipat dari tarif yang berlaku saat ini.

Pemerintah Kanada mengatakan tarif terhadap logam dan produk kayu tersebut dipilih sebagai respons terhadap tarif AS yang sebelumnya sudah dikenakan terhadap baja, aluminium, kayu, serta sejumlah produk lainnya.

Tarif baru Kanada akan mulai berlaku pada 8 September mendatang. Bersamaan dengan itu, Ottawa juga mengumumkan paket tambahan senilai 7,5 miliar dolar Kanada untuk membantu perusahaan dan pekerja yang terdampak tarif AS.

Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne mengatakan keputusan tersebut diambil setelah Ottawa menilai Washington terlalu banyak menuntut dalam perundingan.

"Ketika Amerika Serikat meminta terlalu banyak dan menawarkan terlalu sedikit, kami membuat pilihan. Kami memilih Kanada," kata Champagne, dilansir CNBC.

Kesepakatan Dagang Gagal di Menit Terakhir

Pengenaan tarif balasan sebenarnya masih dapat dicegah apabila AS dan Kanada berhasil mencapai kesepakatan dagang sebelum tarif AS mulai berlaku pada Sabtu lalu.

Trump sebelumnya bahkan menyatakan bahwa kesepakatan dengan Kanada hampir selesai. Namun, Kanada menghentikan perundingan pada Jumat malam setelah menilai AS mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal serta melakukan "perubahan di menit-menit terakhir".

Pemerintahan Trump juga menuding Ottawa sebagai pihak yang menggagalkan perundingan karena meminta perubahan pada kesepakatan pada saat-saat terakhir.

Ketika ditanya mengenai klaim Kanada bahwa Washington mengajukan tuntutan pada menit-menit terakhir, Trump hanya menjawab singkat. "Itu terdengar seperti saya," jawab Trump.

Ketika ditanya lebih lanjut apakah dirinya membantah versi Kanada mengenai penyebab runtuhnya perundingan, Trump tidak memberikan jawaban yang pasti. "Tidak, tidak, saya tidak menyangkal apapun," katanya.

Trump kemudian menegaskan bahwa Kanada harus memberikan sesuatu yang menurutnya adil apabila ingin mencapai kesepakatan dagang dengan AS.

"Jadi tidak, mereka harus membayar jumlah yang adil. Dan jika mereka tidak membayar jumlah yang adil, kami tidak akan membuat kesepakatan. Tidak masalah," kata Trump, sebagaimana dilansir CNN.

Perang Dagang Makin Panas

Runtuhnya perundingan membuka babak baru yang lebih pahit dalam perang dagang antara dua negara yang selama ini merupakan sekutu dekat.

Ketegangan sebelumnya telah meningkat akibat penggunaan tarif secara agresif oleh Trump serta sejumlah pernyataan kerasnya mengenai Kanada.

Pemberlakuan tarif secara timbal balik juga berpotensi memperbesar kekhawatiran mengenai kenaikan biaya. Dunia usaha telah memperingatkan bahwa tarif tersebut dapat menciptakan ketidakpastian besar dan membuat perdagangan lintas perbatasan menjadi terlalu mahal bagi sebagian pelaku usaha.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengakui konsekuensi tersebut setelah perundingan dagang gagal. Carney mengatakan keputusan Kanada untuk melakukan pembalasan "akan meningkatkan biaya dan mengurangi pilihan bagi warga Kanada."

Carney menjadi perdana menteri Kanada tahun lalu setelah sebelumnya memimpin Bank of Canada. Ia juga telah menyatakan keinginannya untuk mendiversifikasi perekonomian Kanada agar negara tersebut tidak terlalu bergantung kepada AS.

Menurut Carney, Kanada di bawah pemerintahan Trump telah "berubah".

Sementara itu, tarif menjadi salah satu bagian utama agenda ekonomi Trump selama masa jabatan keduanya di Gedung Putih. Namun, kebijakan tersebut juga menghadapi sejumlah kemunduran hukum serta memicu penolakan keras dari negara-negara lain.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |