Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Penguatan berlangsung di tengah pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.
Merujuk data Refinitiv, rupiah berhasil ditutup terapresiasi tipis 0,06% ke posisi Rp17.695/US$. Pergerakan tersebut sekaligus membalikkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,11% ke level Rp17.705/US$ pada Senin (24/8/2026).
Rupiah sebenarnya dibuka lebih kuat dengan penguatan 0,20% ke posisi Rp17.670/US$ pada pagi tadi. Namun, penguatannya terpangkas 25 poin hingga penutupan perdagangan.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,04% ke posisi 98,955.
Pergerakan rupiah hari ini berlangsung seiring uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti di Komisi XI DPR RI.
Dalam pemaparannya, Destry menilai nilai tukar rupiah saat ini masih lebih lemah dibandingkan nilai fundamentalnya atau undervalued. Menurutnya, rupiah seharusnya dapat bergerak lebih kuat dari kisaran Rp17.700/US$.
"Nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang," kata Destry dalam fit and proper test di Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Level kurs yang lebih rendah menunjukkan rupiah lebih kuat terhadap dolar AS. Destry menilai tekanan terhadap mata uang Garuda belakangan ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
"Masalahnya ada sentimen, market sentimen itu yang bisa timbulnya macam-macam, termasuk global sentimen, ini ngumpul jadi satu sehingga ini sebabkan pergerakan rupiah menjadi seperti sekarang ini," tegas Destry.
Menurutnya, rupiah dapat menguat dengan cepat ketika sentimen pasar membaik. BI akan memanfaatkan momentum tersebut dengan tetap berada di pasar untuk menjaga volatilitas nilai tukar.
Untuk jangka panjang, Destry menilai penguatan stabilitas rupiah membutuhkan perbaikan sektor eksternal, terutama melalui penguatan Neraca Pembayaran Indonesia serta peningkatan ekspor barang dan jasa.
Kepastian mengenai kepemimpinan BI menjadi perhatian pelaku pasar karena berkaitan dengan kesinambungan kebijakan moneter dan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.
Penguatan rupiah juga sedikit terbatas seiring dengan menguatnya dolar AS di pasar global, ditengah pasar yang tengah menantikan rilis data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) AS serta pidato Ketua bank sentral AS (The Federal Reserve /The Fed) Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat mendatang.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
















































