Pertanian Regeneratif RI Tidak Bisa Dibangun di Atas Pundak Petani

2 hours ago 2

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Perubahan iklim dan cuaca ekstrem kian menekan ketahanan pangan Indonesia. Situasi ini menuntut transformasi sistem pangan agar tidak sekadar mengejar produktivitas, tetapi juga mampu beradaptasi dan bertahan menghadapi perubahan lingkungan.

Dalam konteks ini, berbagai pendekatan, termasuk pertanian regeneratif, semakin banyak didiskusikan dan diajukan sebagai bagian dari upaya membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Pada akhirnya, transformasi pertanian perlu dipandang secara holistik, tidak hanya berfokus pada kuantitas hasil panen, tetapi juga pada ketahanan ekosistem, keberlanjutan ekonomi lokal, dan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.

Secara sederhana, pertanian regeneratif merupakan pendekatan yang menempatkan kesehatan tanah, air, dan keanekaragaman hayati sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Praktiknya beragam, mulai dari meminimalkan olah tanah, menggunakan tanaman penutup (cover crops), melakukan rotasi tanaman, hingga mengintegrasikan ternak.

Penerapannya tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi lahan, lingkungan, dan jenis komoditas di setiap wilayah. Jika dilakukan secara tepat, praktik-praktik ini berpotensi menjaga produktivitas lahan, meningkatkan efisiensi penggunaan input, serta memperkuat pendapatan dan kesejahteraan petani.

Kabar baiknya, Indonesia tidak memulai dari nol. Beberapa prinsip pertanian regeneratif sebetulnya sudah tertanam dalam praktik pertanian tradisional di Indonesia. Tumpang sari dan sistem irigasi subak di Bali, misalnya, menunjukkan bahwa beberapa elemen pertanian regeneratif telah lama diterapkan dalam konteks lokal.

Tantangan utamanya kini adalah memperkuat praktik-praktik tersebut dengan dukungan teknologi dan ilmu agroekonomi modern, sehingga dapat diterapkan lebih luas dan memberikan dampak yang lebih besar bagi lingkungan, produktivitas, dan kesejahteraan petani secara keseluruhan.

Memperluas pertanian regeneratif tidak dapat dilakukan secara instan. Transisi membutuhkan waktu, investasi, dan penyesuaian dalam proses produksi. Pada tahap awal, petani mungkin perlu mempelajari praktik baru, menggunakan peralatan tertentu, serta menanggung biaya tambahan.

Dalam beberapa konteks, hasil panen juga dapat menurun sebelum manfaat praktik regeneratif mulai terlihat. Artinya, terdapat jeda antara biaya dan risiko yang perlu ditanggung di awal dengan manfaat yang baru dapat dirasakan dalam jangka menengah hingga panjang. Mengelola jeda ini menjadi salah satu kunci untuk mendorong adopsi pertanian regeneratif secara lebih luas.

Bagi lebih dari 17 juta petani gurem yang mengelola lahan terbatas dan mengandalkan modal serta pendapatan dari satu musim tanam ke musim berikutnya, menanggung investasi awal dan risiko transisi bukanlah hal yang mudah.

Ketika manfaat dari praktik regeneratif baru dapat dirasakan dalam beberapa musim, petani memiliki ruang yang terbatas untuk membiayai perubahan tersebut sendiri. Karena itu, membiarkan petani menanggung seluruh beban transisi bukan hanya tidak adil, tetapi juga tidak realistis jika pertanian regeneratif ingin diterapkan secara luas dan berkelanjutan.

Risiko dan biaya transisi perlu dibagi secara proporsional dengan pihak-pihak yang juga akan menikmati manfaat dari praktik pertanian regeneratif.
Manfaat pertanian regeneratif tidak berhenti di tingkat petani. Praktik ini dapat memperkuat ketahanan rantai pasok, menggerakkan ekonomi pedesaan, dan membangun sistem pangan yang lebih tangguh.

Karena manfaatnya dirasakan oleh lebih banyak pihak dan dalam jangka yang lebih panjang, biaya untuk mewujudkannya pun tidak realistis jika sepenuhnya dibebankan kepada petani. Yang dibutuhkan adalah ekosistem dukungan yang dapat membantu menanggung biaya dan risiko pada tahap yang berbeda, hingga praktik tersebut menjadi semakin layak secara ekonomi.

Pada tahap awal, misalnya, ketika praktik dan model bisnis pertanian regeneratif masih perlu diuji dan dikembangkan, pendanaan filantropi dapat memainkan peran penting karena memiliki ruang untuk mengambil risiko yang belum dapat ditanggung oleh pembiayaan komersial.

Dukungan untuk pelatihan, pendampingan, penyediaan input, dan pengembangan model dapat membantu membangun bukti sekaligus menurunkan risiko, sehingga praktik dapat perlahan menjadi lebih siap untuk dibiayai.

Seiring risiko berkurang dan model semakin terbukti, peluang untuk menarik pembiayaan yang lebih berkelanjutan pun terbuka. Pemerintah dapat membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan melalui pembiayaan, asuransi usaha tani, penjaminan kredit, maupun kebijakan yang mengurangi ketidakpastian bagi petani dan pelaku usaha.

Pada saat yang sama, lembaga keuangan dan pembiayaan pembangunan dapat mulai menyediakan modal untuk memperluas praktik yang telah menunjukkan kelayakan bisnis.

Pada akhirnya, keberlanjutan transisi juga bergantung pada adanya permintaan yang nyata dari pasar. Bagi perusahaan yang bergantung pada komoditas pertanian, mendukung pertanian regeneratif dapat menjadi bagian dari investasi untuk menjaga keberlangsungan bisnisnya sendiri.

Kontrak pembelian jangka panjang, komitmen volume, atau insentif bagi petani dapat memberikan kepastian yang membantu menutup sebagian biaya dan risiko di masa transisi. Ketika berbagai bentuk dukungan ini bertemu dengan permintaan pasar yang nyata, pertanian regeneratif memiliki peluang lebih besar untuk berkembang bukan hanya sebagai praktik yang baik bagi lingkungan, tetapi juga sebagai model yang layak secara ekonomi.

Tidak ada satu pun aktor yang dapat menyelesaikan transisi ini sendirian. Namun, semua pihak dapat mengambil peran masing-masing untuk mengurangi risiko yang dihadapi petani. Dengan pelatihan, dukungan teknis, akses terhadap pembiayaan, dan perlindungan risiko, petani akan lebih mampu beralih ke praktik regeneratif secara berkelanjutan.

Momentum untuk perubahan ini sudah tersedia. Lembaga filantropi mulai bergerak, perusahaan telah menjalankan berbagai uji coba, dan pemerintah telah mengirimkan sinyal kebijakan yang searah. Tantangannya kini adalah memastikan berbagai upaya tersebut saling terhubung dan dapat berkembang dalam skala yang lebih besar.

Kita tidak bisa meminta petani menanggung biaya perubahan untuk sebuah sistem pangan yang manfaatnya dinikmati oleh semua pihak. Jika manfaat pertanian regeneratif adalah milik bersama, maka risiko untuk mewujudkannya juga harus menjadi tanggung jawab bersama.


(miq/miq)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |