- Pasar keuangan Indonesia ditutup melemah pada akhir pekan lalu
- Bursa Wall Street bangkit pada akhir pekan lalu setelah sempat jatuh karena lonjakan harga minyak
- Data ekonomi serta keputusan The Fed akan menjadi pusat sentimen pekan ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan lalu.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bangkit pada pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk pada perdagangan Jumat (24/7/2026), dengan pelemahan nyaris mencapai 2% di tengah derasnya aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).
Sentimen eksternal berupa lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel serta kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus membayangi pergerakan pasar.
Hingga akhir perdagangan sesi pertama, IHSG anjlok 117 poin atau 1,88% ke level 6.196,43. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 587 saham melemah, hanya 104 saham menguat, sementara 105 saham bergerak stagnan.
Nilai transaksi telah mencapai Rp 17,71 triliun dengan volume perdagangan 37,84 miliar saham dalam 2,25 juta kali transaksi, mencerminkan tingginya tekanan jual sejak awal sesi. Pelemahan IHSG didominasi oleh aksi jual pada saham-saham unggulan, terutama sektor perbankan yang sehari sebelumnya juga menjadi sasaran jual investor asing. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,36 triliun pada Jumat pekan lalu. Artinya sepanjang tahun ini, net sell sudah tercatat Rp 77,73 triliun,
Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Mata uang Garuda bahkan sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$ sebelum memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.
Dilansir dari Refinitiv, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026).
Mata uang Garuda bahkan sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$ sebelum memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.
Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,28% ke posisi Rp17.935/US$. Posisi penutupan tersebut sama dengan level pembukaan perdagangan Jumat.
Secara mingguan, rupiah juga melemah sekitar 0,25% dari posisi penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.885/US$.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menembus 7,374%. Posisi ini adalah yang tertinggi sejak 11 Juni 2026. Imbal hasil yang melonjak menandai harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.
Addsource on Google


















































