Jakarta, CNBC Indonesia - Sosok Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Raja Yogyakarta dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan dekat dengan rakyat. Dia diketahui juga menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia karena memperoleh harta banyak dari warisan dan sistem feodalisme kerajaan.
Di balik statusnya sebagai Raja Yogyakarta dan salah satu orang terkaya di Indonesia, tersimpan kisah unik ketika dirinya pernah dikira sebagai sopir truk pengangkut beras oleh seorang pedagang pasar.
Peristiwa itu terjadi saat Sri Sultan Hamengkubuwana IX mengendarai kendaraan Land Rover miliknya seorang diri dari kawasan pedesaan menuju Kota Yogyakarta. Dalam perjalanan, kendaraan yang dikemudikannya dihentikan oleh seorang perempuan tua penjual beras yang hendak menuju pasar.
Perempuan itu ingin ikut serta ke pasar di kota. Bahkan, langsung meminta sopir membantunya mengangkut beras ke dalam truk.
Semua terjadi begitu saja tanpa tahu orang yang ditumpanginya adalah Raja Jawa. Sri Sultan lantas langsung manut dan mengangkat dua karung besar ke truk.
Dalam otobiografi Pranoto Reksosamodra berjudul Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra (2015) diceritakan, selama perjalanan penjual beras dan Sri Sultan asyik mengobrol tanpa tahu obrolan berlangsung bersama penguasa nomor satu.
Saat tiba di pasar, Sri Sultan juga bertugas layaknya supir pada umumnya, yakni menurunkan karung tersebut. Lalu, si penjual beras memberikan upah. Namun, Sri Sultan dengan sopan menolak pemberian dan mengembalikan uang tersebut.
Penjual beras malah bersikap reaksioner. Dia marah dan merasa tersinggung sebab mengira supir truk tak mau menerima uang karena nominalnya terlalu sedikit. Sri Sultan segera pergi meninggalkan penjual beras. Sementara perempuan itu masih tak menerima penolakan dan memandang supir tersebut sombong tak butuh uang.
Dengan mulut terus-terusan menggerutu, ada orang yang akhirnya memberitahu penjual beras. Bahwa, sebenarnya supir truk yang marahi habis-habisan adalah Sultan Hamengkubuwana IX.
Saat mendengar ini, penjual beras itu kaget dan pingsan hingga dibawa ke rumah sakit. Kejadian tersebut lantas terdengar ke telinga Sri Sultan. Seketika, Sultan langsung memacu kendaraannya ke rumah sakit dan menjenguk penjual beras tersebut.
Kisah tersebut hingga kini masih dikenang masyarakat sebagai gambaran kerendahan hati Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Meski memiliki kedudukan tinggi dan kekayaan besar, ia dikenal tidak menjaga jarak dengan rakyat kecil serta kerap turun langsung melihat kehidupan masyarakat.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































