Jakarta -
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan peran strategis koperasi pesantren dalam memperkuat ekonomi syariah nasional. Menurutnya, koperasi pesantren dapat berperan sebagai kakak asuh bagi Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih, yang menjadi program strategis nasional untuk pemerataan ekonomi desa.
"Kami ingin koperasi pesantren seperti Koperasi Pondok Pesantren Sunan Gresik, Sidogiri, dan Nurul Jadid yang telah sukses mengelola bisnis besar seperti pabrik dan ritel, menjadi kakak asuh bagi Koperasi Desa Merah Putih. Mereka bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk memperkuat ekosistem koperasi desa," kata Ferry dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).
Hal itu disampaikan Ferry saat memberikan sambutan dalam Symposium bertajuk 'Halal Beyond Compliance: A Strategic Pathway to Global Leadership' yang digelar di Menara Syariah, PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (21/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ferry menjelaskan Kopdes Merah Putih saat ini menjadi salah satu prioritas pengembangan ekonomi rakyat. Koperasi ini akan bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari distribusi kebutuhan pokok, pengelolaan apotek dan klinik desa, hingga penyediaan layanan keuangan mikro.
Dengan pendampingan koperasi pesantren, ia berharap Kopdes Merah Putih dapat tumbuh lebih cepat dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Selain penguatan kapasitas kelembagaan, pembangunan fisik Kopdes Merah Putih juga telah memasuki tahap signifikan. Program ini mencakup pembangunan gudang modern untuk penyimpanan kebutuhan pokok dan produk lokal desa, serta pembangunan apotek dan klinik desa guna memperluas akses layanan kesehatan masyarakat.
"Pembangunan gudang, apotek, dan klinik desa sangat penting untuk menciptakan ketahanan ekonomi dan sosial. Koperasi desa juga akan dilengkapi lembaga keuangan mikro agar masyarakat lebih mudah mengakses pembiayaan usaha kecil," jelasnya.
Kopdes Merah Putih juga akan didukung kendaraan logistik untuk memperlancar distribusi barang dari dan ke desa, sekaligus memutus rantai distribusi yang panjang dan mahal.
"Kami ingin koperasi desa menjadi instrumen paling bawah dalam distribusi barang dan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat, dengan harga yang lebih murah dan terjangkau," tambah Ferry.
Lebih lanjut, Ferry menekankan bahwa ekonomi syariah tidak boleh hanya bertumpu pada sektor keuangan, tetapi juga harus menyentuh sektor riil agar menciptakan pertumbuhan yang adil dan berkelanjutan.
"Kami mendorong koperasi syariah memperkuat sektor riil dan lebih aktif mengembangkan ekonomi masyarakat. Ekonomi syariah harus memberikan dampak langsung," ujarnya.
Sebagai Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah, Ferry juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan ekonomi syariah Indonesia. Ia menyebut Indonesia kini menempati peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator.
"Dengan mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), ekonomi syariah dapat dibawa ke level yang lebih tinggi dan membangun ekosistem yang bertanggung jawab serta berkelanjutan," pungkasnya.
(akd/ega)


















































