Menkeu RI Tak Mau Anaknya Jadi PNS, Sebut Banyak Godaan

4 hours ago 4
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjadi pegawai negeri kerap dianggap sebagai pilihan karier yang aman. Status pekerjaan yang relatif stabil membuat banyak orang tua berharap anak-anaknya mengikuti jalur tersebut.

Namun, pandangan berbeda pernah disampaikan Menteri Keuangan era Orde Baru, Mar'ie Muhammad. Alih-alih mendorong anak-anaknya menjadi pegawai negeri, Mar'ie justru meminta mereka mencari pekerjaan di luar birokrasi.

Pesan tersebut disampaikan Mar'ie setelah anak-anaknya menyelesaikan pendidikan. Sang istri, Etty Muhammadl, mengingat bahwa suaminya bahkan berharap tidak ada keturunannya yang menjadi pegawai negeri.

"Dia bilang, 'Nanti kalau sudah lulus, saya berdoa semoga jangan ada keturunan Papa menjadi pegawai negeri. Saya minta kepada kamu, jangan menjadi pegawai negeri.' Itu saja permintaannya. Saya dengar itu di depan saya," kenang istrinya, Etty Muhammadl, dikutip dari autobiografi berjudul Mr.Clean Marie Muhammad (2025).

Pesan tersebut tentu membuat anak-anaknya bertanya-tanya. Pasalnya, Mar'ie sendiri justru menghabiskan sebagian besar perjalanan kariernya sebagai aparatur negara. Ia bahkan dipercaya menduduki posisi Menteri Keuangan.

Salah satu anaknya kemudian mempertanyakan alasan sang ayah melarang mereka menjadi pegawai negeri.

Mantan Menteri Keuangan Indonesia, Mar'ie Muhammad. (Photo by AGUS WAHYUDI / AFP/File Foto)Mantan Menteri Keuangan Indonesia, Mar'ie Muhammad. (Photo by AGUS WAHYUDI / AFP/File Foto) Foto: Mantan Menteri Keuangan Indonesia, Mar'ie Muhammad. (AFP/AGUS WAHYUDI)

"Kenapa Ma, Pa, tidak boleh menjadi pegawai negeri?" tanya anaknya.

Mar'ie tidak memberikan penjelasan panjang. Ia hanya mengingatkan anaknya mengenai berbagai godaan yang mungkin dihadapi ketika bekerja di lingkungan birokrasi.

"Sudahlah, kamu tidak akan paham godaannya di sana," jawabnya.

Mar'ie kemudian menyarankan agar anak-anaknya mempertimbangkan bidang pekerjaan lain, termasuk membuka usaha sendiri.

"Kamu kan bisa kerja di bagian lain, misalnya buka usaha sendiri," kata Mar'ie.

Sikap tersebut tidak terlepas dari pengalaman panjang Mar'ie selama berada di pemerintahan. Pada era Orde Baru, praktik korupsi dan pungutan liar masih menjadi persoalan yang dihadapi birokrasi dan pelayanan publik.

Pengalaman serupa juga pernah diceritakan oleh pendahulu Mar'ie sebagai Menteri Keuangan, J.B. Sumarlin. Dalam autobiografi J.B. Sumarlin: Cabe Rawit yang Lahir di Sawah (2012), Sumarlin mengungkapkan bahwa pungutan liar telah mengakar dalam pelayanan publik.

Dalam praktiknya, masyarakat yang hendak mengurus berbagai keperluan bahkan kerap diminta mengeluarkan uang berkali-kali.

Kondisi tersebut membuat Sumarlin melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah instansi pemerintah. Tidak hanya datang secara terbuka, dalam beberapa kesempatan ia bahkan menyamar untuk melihat langsung kondisi pelayanan di lapangan.

Pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran maupun pungutan liar juga tidak luput dari sanksi.

Upaya tersebut membuat Sumarlin dikenal sebagai salah satu pejabat yang berani memberantas korupsi dan pungutan liar di lingkungan birokrasi. Komitmennya dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan turut mengantarkannya meraih penghargaan Menteri Keuangan Terbaik Asia pada 1989.

Di tengah kondisi birokrasi yang penuh godaan tersebut, Mar'ie Muhammad memilih memberikan pesan berbeda kepada keluarganya.

Meski dirinya meniti karier sebagai pegawai negeri hingga mencapai posisi Menteri Keuangan, Mar'ie justru berharap anak-anaknya membangun masa depan di luar dunia birokrasi.

Bagi Mar'ie, pengalaman panjangnya di pemerintahan tampaknya menjadi alasan untuk mengingatkan generasi setelahnya agar memilih jalur karier yang menurutnya dapat menjauhkan mereka dari berbagai godaan di lingkungan birokrasi.

(mfa/mfa)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |