Malapetaka Menghantam Amerika, Ratusan Sudah Jadi Korban

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan siber bertubi-tubi menghantam Amerika Serikat (AS). Kelompok peretas yang memburu uang tebusan (ransomware) menyerang puluhan lembaga keuangan ternama di AS dan sejumlah perusahaan lain dalam sebulan terakhir, menurut Google dan data intelijen internet yang ditinjau oleh Reuters.

Data tersebut menunjukkan para peretas membuat situs palsu untuk mencuri kata sandi karyawan perusahaan ekuitas swasta dan perusahaan keuangan, termasuk Blackstone, Bridgewater Associates, Apollo Global Management, Bain Capital, KKR, TPG, CME Group, Clearlake Capital, dan Moody's.

Google menyatakan dalam sebuah unggahan blog yang dipublikasikan pada Kamis bahwa para peretas beroperasi dengan berbagai nama, termasuk Redact, Pink, Falcon, dan Helix.

Dalam unggahan blog tersebut, Google menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, perusahaan yang tidak disebutkan namanya membayar uang tebusan kepada para peretas. Mengutip Reuters, belum dapat dipastikan perusahaan mana saja yang berhasil ditembus oleh para pelaku.

Para ahli menyebut para peretas menggunakan taktik sederhana seperti panggilan telepon untuk menargetkan industri keuangan. Mereka menilai metode lama ini tetap menjadi salah satu cara paling efektif meskipun perusahaan telah memiliki sistem keamanan canggih dan ancaman berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Jika berhasil, serangan tersebut dapat membahayakan data milik sejumlah perusahaan ekuitas swasta terbesar di AS yang menyediakan modal bagi berbagai perusahaan.

"Karena pagar keamanan sekarang sudah sangat canggih dan berteknologi tinggi, kami hanya perlu menipu penjaga agar membuka pintu untuk kami," kata Lee Clark, Manajer Produksi Intelijen Ancaman Siber di Retail and Hospitality ISAC, sebuah kelompok berbagi informasi dan analisis industri.

"Faktor manusia secara konsisten menjadi alasan mengapa serangan ini meledak seperti sekarang," ujarnya.

Peretas Alihkan Sasaran

Dalam blog tersebut, Google menyatakan para peretas baru-baru ini mengalihkan perhatian mereka ke perusahaan ekuitas swasta, firma hukum, dan lembaga pemeringkat keuangan.

Analis Utama Ancaman di Google Threat Intelligence Group, Austin Larsen, mengatakan para peretas umumnya memilih industri berdasarkan pertimbangan finansial dan sering kali berhasil.

"Pada dasarnya ini soal uang," kata Larsen. "Mereka menganggap perusahaan atau organisasi ini memiliki data yang cukup sensitif, sehingga jika dicuri, mereka akan membayar agar data tersebut tidak dipublikasikan," imbuhnya.

Google tidak mengungkapkan nama-nama target para peretas secara mendetail. Namun, laporan Reuters membongkar banyak jebakan digital yang dibuat khusus untuk masing-masing perusahaan dengan menganalisis 72 situs berbahaya yang tercantum dalam laporan Google melalui platform intelijen web seperti DomainTools dan urlscan. Platform tersebut mengidentifikasi subdomain berbahaya yang dirancang khusus untuk setiap perusahaan.

Larsen mengatakan semua subdomain tersebut kemungkinan digunakan dalam upaya penyusupan, meskipun tidak semuanya berhasil.

Google menyebut para peretas menggunakan taktik rekayasa sosial (social engineering) yang sangat teliti. Mereka menghubungi karyawan melalui ponsel pribadi sambil berpura-pura menjadi petugas help desk perusahaan, bahkan terkadang menampilkan nomor telepon help desk yang asli.

Para peretas berdalih ada instruksi mendesak dari tim TI untuk memperbarui passkey atau autentikasi multifaktor, lalu mengarahkan korban ke situs jebakan dengan nama domain seperti "passkeyhelpdesk" atau "secure-passkey".

Jika karyawan mengikuti instruksi dan memasukkan kata sandi, para peretas dapat mengambil kode verifikasi yang biasanya dikirim melalui SMS atau aplikasi, lalu membajak akun korban sebelum panggilan berakhir.

Larsen menegaskan bahwa metode tersebut bukan teknik yang sangat canggih.

"Kata yang tepat bukan canggih," ujarnya. "Cara ini hanya sangat efektif."

Bikin Wall Street Geger

Larsen mengatakan identitas para peretas dan hubungan di antara mereka masih belum jelas. Meskipun menggunakan nama yang berbeda, mereka tampaknya terhubung melalui infrastruktur yang sama.

"Masih ada beberapa hal yang belum diketahui," katanya.

Upaya peretasan ini, yang sebagian sebelumnya dilaporkan oleh Bloomberg, memicu kegemparan di Wall Street.

Point72 Asset Management memberi tahu para investornya pada Rabu bahwa perusahaan tersebut menjadi sasaran serangan peretas, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Sumber tersebut, bersama sumber lain yang juga mengetahui persoalan ini, mengatakan para peretas juga mencoba menembus dana lindung nilai (hedge fund) lain, termasuk Two Sigma Investments dan Citadel. Nama kedua perusahaan itu juga muncul dalam data yang ditinjau oleh Reuters.

Data turut menunjukkan para penjahat siber telah membangun jebakan digital untuk lebih dari 200 perusahaan hanya dalam lima pekan terakhir. Target mereka mencakup perusahaan transportasi daring Uber, broker online Zillow, merek jeans Levi Strauss, serta sejumlah firma hukum seperti Paul Hastings dan Greenberg Traurig.

Uber, Zillow, Paul Hastings, dan Levi Strauss belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Sementara itu, Greenberg Traurig menyatakan tidak mengalami kebocoran data karena memiliki lapisan protokol keamanan untuk melindungi data klien dan perusahaan, meskipun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |