Ketahanan Energi RI Jauh Lebih Kuat dari Negara Tetangga, Ini Buktinya

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menilai ketahanan energi di Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara tetangga di Asia. Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan di tengah krisis geopolitik global menjadi bukti ketangguhan sektor energi domestik.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menjelaskan perbandingan kondisi saat pecahnya konflik di Timur Tengah beberapa waktu lalu. Berdasarkan pantauannya, banyak negara tetangga terpaksa membatasi penjualan bahan bakar minyak (BBM), sementara Indonesia tetap mampu melayani kebutuhan masyarakat.

"Saya merasa hari ini ketahanan energi kita jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara tertangga. Kalau kita ingat ketika perang di Timur Tengah meletus, seminggu dua minggu kemudian negara-negara di kawasan Asia paling tidak sudah membatasi penjualan BBM. Di Bangladesh, Pakistan, Filipina sudah membatasi," katanya dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2026).

Ketahanan di sektor kelistrikan Indonesia juga dinilai sangat stabil karena didukung oleh ketersediaan batu bara yang melimpah sebagai bahan baku pembangkit. Dengan cadangan yang ada saat ini, sektor kelistrikan dinilai tidak mengalami gangguan berarti meski pasar energi dunia sedang mengalami gejolak suplai.

"Electricity sektor kita sesungguhnya tidak terganggu karena apa? Ya blessing in disguise kita masih menggunakan batu bara lebih banyak. Batu bara di Indonesia besar sekali cadangannya luar biasa Ibu Bapak. Kita hari ini memproduksi batu bara 800 juta ton per tahun. Kita mau produksi itu 50 tahun masih ada cadangan untuk 100 tahun yang akan datang," paparnya.

Selain sektor listrik, Indonesia memiliki resiliensi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) untuk menekan ketergantungan pada produk minyak luar negeri. Implementasi program mandatori biodiesel 40% (B40) yang sebelumnya berlaku, terbukti efektif mengurangi volume impor diesel secara signifikan di tengah kenaikan harga minyak mentah.

"Kita kemudian juga memiliki resiliensi karena kita memang memiliki sumber energi untuk membantu pengurangan impor. Hari ini kita menggunakan B40 untuk mengurangi volume impor diesel kita. Jadi sesungguhnya kita agak lebih kuat," tambahnya.

Meski memiliki resiliensi yang baik, pemerintah tetap mewaspadai lonjakan harga minyak mentah dunia yang dapat memaksa penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Transisi energi dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar untuk memastikan ketahanan energi jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

"Bagi saya transisi energi itu bukan opsi, bukan pilihan, itu adalah keniscayaan. Jadi it is inevitable that we have to transform our energy sector to become more sustainable," tandasnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |