Keajaiban China! Satwa Langka Ramai-ramai Lahir Lagi-Ada Panda Raksasa

3 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

29 July 2026 19:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama bertahun-tahun China dikenal sebagai negara dengan pembangunan infrastruktur yang agresif.

Namun, dalam satu dekade terakhir, arah kebijakannya mulai bergeser. Pemerintah menggelontorkan investasi besar untuk memulihkan ekosistem, melindungi satwa liar, dan memperluas kawasan konservasi.

Hasilnya mulai terlihat di berbagai wilayah. Populasi panda raksasa di alam liar kini sekitar 1.800 ekor sehingga statusnya turun dari terancam punah (Endangered) menjadi rentan (Vulnerable). Populasi harimau Siberia, gajah Asia, antelop Tibet, hingga rusa milu juga bertambah.

Di Provinsi Shaanxi, burung crested ibis yang pada 1981 hanya tersisa tujuh ekor kini berkembang menjadi lebih dari 12.000 individu di seluruh dunia. Habitatnya meluas hingga lebih dari 20.000 kilometer persegi.

Pemulihan itu lahir dari kebijakan yang berlangsung puluhan tahun. Pemerintah memperketat perlindungan habitat, melarang perburuan, membatasi pembukaan hutan, mengurangi penggunaan pestisida di sejumlah kawasan, serta mengembangkan penangkaran yang diikuti pelepasliaran ke alam.

Perubahan paling cepat terjadi di Sungai Yangtze.

Sejak 2021 pemerintah memberlakukan larangan penangkapan ikan komersial selama sepuluh tahun di sungai terpanjang di Asia tersebut. Pengawasan dilakukan melalui patroli rutin, drone, kamera, dan penegakan hukum yang lebih ketat.

Ribuan pabrik kimia di sepanjang bantaran sungai dipindahkan atau ditutup, sementara rehabilitasi hutan dan pembangunan lahan basah dilakukan di daerah aliran sungai.

Data Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China memperlihatkan biomassa ikan di Sungai Yangtze telah meningkat lebih dari 200% dibandingkan kondisi sebelum kebijakan berlaku.

Keanekaragaman ikan bertambah dari 308 spesies menjadi 351 spesies. Populasi lumba-lumba tanpa sirip Sungai Yangtze (Yangtze finless porpoise) mencapai 1.426 ekor pada 2025, naik dari sekitar 1.012 ekor pada 2017.

Perbaikan kualitas habitat ikut membuka peluang bagi spesies lain. Peneliti juga kembali menemukan reproduksi alami Chinese high fin banded shark setelah lebih dari dua dekade tidak tercatat.

Investasi konservasi tersebut kemudian berkembang menjadi sumber aktivitas ekonomi baru di sejumlah daerah. Desa Siyinba di Shaanxi mengubah sekitar 20 hektare sawah menjadi lahan pertanian organik untuk menjaga habitat crested ibis.

Produk pertanian organik yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan pola budidaya konvensional.

Pemerintah daerah kemudian membangun kawasan wisata bertema konservasi burung ibis. Lokasi tersebut menerima lebih dari 70.000 wisatawan setiap tahun dengan pendapatan sekitar 3,5 juta yuan. Lapangan kerja baru bermunculan di sektor homestay, restoran, pemandu wisata, hingga pendidikan lingkungan. Banyak warga yang sebelumnya merantau kembali ke desa karena tersedia pekerjaan di kampung halaman.

Model tersebut menjadi pendekatan berbeda dalam pembangunan kawasan konservasi. Perlindungan satwa dipadukan dengan pengembangan ekonomi lokal sehingga masyarakat memperoleh sumber pendapatan dari keberadaan ekosistem yang sehat.

Meski demikian, tantangan belum selesai. Di Sungai Yangtze masih terdapat belasan bendungan besar, termasuk Three Gorges Dam. Sejumlah peneliti menilai infrastruktur tersebut menghambat migrasi ikan menuju lokasi pemijahan.

Pemerintah juga telah menyetujui pembangunan bendungan baru di Danau Poyang untuk mengatur ketersediaan air pada musim kemarau. Rencana itu memunculkan kekhawatiran karena kawasan tersebut menjadi habitat penting bagi burung migran dan lumba-lumba tanpa sirip yang populasinya baru pulih.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |