HNW Desak Pemerintah Segera Bebaskan Relawan WNI yang Diculik Israel

5 days ago 13

Jakarta - Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW) menerima kunjungan Pimpinan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang mengirimkan Relawan dan Jurnalis Indonesia sebagai misi kemanusiaan ke Gaza. Pengiriman itu berbarengan dengan ratusan relawan kemanusiaan internasional yang terhimpun dalam Global Shumud Flotilla II untuk salurkan bantuan kemanusiaan dengan kapal-kapal kemanusiaan serta membuka blokade Israel atas Gaza.

Delegasi itu dipimpin oleh Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, bertemu di Ruang Rapat Pimpinan, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Turut hadir dalam pertemuan itu sejumlah pengarah GPCI di antaranya CEO Rumah Zakat Irvan Nugraha, Direktur Utama Adara Relief International Maryam Rachmayani Yusuf, Advokasi GPCI Arif Rahmadi Haryono, serta Sekretaris Dompet Dhuafa Dian Mulyadi.

Dalam pertemuan tersebut mereka menyampaikan perkembangan misi kemanusiaan Global Shumud Flotilla menuju Gaza, termasuk penahanan atau penculikan ratusan aktivis kemanusiaan dan jurnalis oleh pasukan Israel di perairan internasional. Peristiwa itu termasuk diculiknya 4 jurnalis Indonesia dan 1 aktivis kemanusiaan anggota delegasi dari Global Peace Convoy Indonesia. Mereka berharap agar Pemerintah Indonesia serta DPR dapat segera bertindak menyelamatkan para relawan dan jurnalis yang ditahan atau diculik Israel itu.

Menanggapi permintaan pimpinan GPCI, HNW menyampaikan kritik kerasnya atas tindakan Israel yang kembali mencegat kapal misi kemanusiaan menuju Gaza dan menahan atau menculik para aktivisnya.

"Secara prinsip saya sangat menolak keras dan prihatin atas berlanjutnya kejahatan kemanusiaan Israel dan pasukan Zionisnya yang kembali menangkap atau menculik ratusan aktivis sipil yang tidak membawa senjata, tapi bantuan kemanusiaan," kata HNW dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).

"Tindakan melanggar hukum Israel ini bisa terjadi lagi karena tidak ada sanksi keras terhadap Israel yang sebelumnya juga melakukan kejahatan sejenis, sehingga kejahatan kemanusiaan ini terus berulang," sambungnya.

Dia menilai penangkapan relawan dan jurnalis di perairan internasional merupakan pelanggaran terbuka terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia.

"Penculikan 332 relawan oleh pasukan Israel itu terjadi di perairan internasional, bukan di perairan di bawah otoritas Israel. Tentu saja ini merupakan pelanggaran terbuka terhadap hukum internasional," jelasnya.

Sekalipun demikian, HNW memberikan apresiasi kepada para relawan kemanusiaan dan jurnalis yang tetap berangkat menuju Gaza meski mengetahui risiko yang akan dihadapi. Karena sebelumnya Israel juga sudah menangkapi atau menculik peserta konvoi Global Shumud Flotilla pada akhir April 2026.

"Saya salut kepada rekan-rekan wartawan, dan para relawan. Sekalipun sudah mengetahui resikonya, mereka tetap berani melanjutkan aksi kemanusiaannya, membantu warga Gaza korban genosida dan membuka isolasi tahunan yang sudah diberlakukan Israel atas Gaza," tuturnya.

Menurut HNW, langkah para relawan tersebut merupakan bagian dari perjuangan kemanusiaan, menolak genosida, dalam kerangka hukum internasional.
Merespons pernyataan HNW, Ketua Delegasi, Ahmad Juwaini menyampaikan harapan.

Dia juga berharap Presiden Prabowo Subianto dapat menginstruksikan kementerian terkait serta perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri untuk ikut membantu proses pembebasan.

"Termasuk relasi sangat baiknya dengan Raja Yordania atau bahkan kepada Presiden AS Donald Trump yang memujikan Presiden Prabowo dan konon sangat didengar oleh Israel," tuturnya.

HNW juga meminta Pemerintah Indonesia sesudah mengeluarkan kecaman keras serta segera melakukan langkah konkret dan efektif melalui berbagai jalur diplomasi internasional.

"Kementerian Luar Negeri penting segera melakukan aksi yang lebih nyata dan lebih efektif, bersama PBB dan OKI, karena negara memang diwajibkan oleh Konstitusi untuk melindungi seluruh warga negara Indonesia, termasuk yang berada di luar negeri. Apalagi terhadap mereka yang melakukan kegiatan sesuai dengan Konstitusi Indonesia seperti para Relawan atau TNI penjaga perdamaian," katanya.

HNW menegaskan Indonesia memiliki posisi strategis di berbagai forum internasional, termasuk sebagai Ketua Dewan HAM PBB. Menurutnya, hal itu mestinya bisa mengambil langkah lebih aktif dan lebih efektif.

"Sudah sangat seharusnya Indonesia menyikapi serius pelanggaran HAM terhadap para jurnalis dan relawan kemanusiaan warga Indonesia dan ratusan warga negara lainnya yang ditahan Israel itu. Sekalipun Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, bukan berarti Indonesia tidak dapat membela menyelamatkan warganya," ungkapnya.

"Karena bukan hanya Indonesia yang tidak punya hubungan diplomatik tapi warganya tetap ditahan/diculik oleh Israel, contohnya adalah Malaysia, yang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, tapi Malaysia melalui Perdana Menterinya tetap membela para relawan dan dapat membebaskan warganya yang ditahan Israel," tambahnya.

Dia juga menyoroti tingginya angka korban dari kalangan jurnalis dalam konflik terkait Gaza.

Mengutip data Committee to Protect Journalists, HNW menyebut jumlah wartawan dan pekerja media yang tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 telah melampaui 260 orang. Angka itu lebih tinggi dari jumlah akumulatif wartawan korban perang dunia pertama, kedua, perang di Afghanistan, dan Ukraina.

"Israel memang menarget wartawan karena mereka tidak ingin kejahatan kemanusiaan termasuk genosida yang mereka lakukan atas Gaza, diketahui dunia," jelasnya.

HNW menegaskan MPR RI mendukung langkah kemanusiaan nan damai yang dilakukan Global Peace Convoy Indonesia bersama Global Shumud Flotilla, dan meminta pemerintah memaksimalkan seluruh jalur diplomasi internasional untuk membebaskan para relawan serta jurnalis yang ditahan Israel.

"Kami juga berharap akan kepada kawan-kawan di DPR, terutama Komisi I, agar menyuarakan lebih efektif dan menggalang kebersamaan dengan organisasi parlemen sedunia, untuk pembebasan seluruh aktivis kemanusiaan yang ditahan Israel termasuk relawan dan wartawan dari Indonesia," ungkapnya.

"Karena bila tidak segera, atau semakin lama mereka dibiarkan ditahan Israel, akan semakin tinggi potensi pelanggaran HAMnya juga pelanggaran hukum terhadap para relawan kemanusiaan dan wartawan," tambahnya.

Sementara itu, Irvan Nugraha menjelaskan bahwa lembaga-lembaga kemanusiaan yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia telah beberapa kali mencoba menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui berbagai jalur.

Namun karena adanya pembatasan akses, mereka akhirnya bergabung dalam Global Shumud Flotilla.

"Dalam Global Shumud Flotilla kedua ini ada tiga jalur yang ditempuh, yakni jalur laut, konferensi parlemen di Brussel, dan jalur darat melalui Libya," kata Irvan.

Menurut Irvan, misi tersebut merupakan upaya sah masyarakat sipil internasional melalui jalur perairan internasional yang dilindungi hukum internasional.

"Kami berharap delegasi yang selamat dari pencegatan/penculikan Israel, termasuk 4 delegasi dari Indonesia, dapat menembus Gaza dan menyalurkan bantuan kemanusiaan, menghentikan genosida. Dan agar relawan atau jurnalis yang ditahan atau diculik Israel, agar bisa segera dibebaskan," tutupnya.

Simak juga Video WNI Ditangkap Israel, Menlu: Informasi yang Kita Terima Masih Sulit

(prf/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |