Harga Minyak Melonjak Lagi: Perang AS-Iran Kembali Panas?

3 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

28 May 2026 14:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia berbalik menguat setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru ke situs militer Iran. Kenaikan terjadi di tengah proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran yang masih berlangsung.

Merujuk Refinitiv, harga minyak Brent pada perdagangan hari ini, Kamis (28/5/2026) pukul 11.33 WIB, berada di posisi US$98,01 per barel atau naik 3,95%.

Sementara itu, harga minyak WTI pada waktu yang sama berada di posisi US$92,28 per barel atau menguat 4,06%.

Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat anjlok tajam pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (27/5/2026), harga Brent ditutup di US$94,29 per barel atau ambruk 5,31% dari posisi Selasa (26/5/2026) di US$99,58 per barel.

WTI juga mengalami tekanan besar pada perdagangan Rabu. Harga WTI ditutup di US$88,68 per barel atau jatuh 5,55% dari posisi sebelumnya di US$93,89 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer AS melakukan serangan baru di Iran pada Rabu malam waktu setempat. Mengutip Reuters, serangan tersebut menargetkan sebuah situs militer yang dinilai mengancam pasukan AS dan lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim mengatakan militer AS juga mencegat dan menembak jatuh sejumlah drone Iran yang dianggap menimbulkan ancaman serupa.

Serangan terbaru ini terjadi ketika AS dan Iran masih bernegosiasi untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung tiga bulan. Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan membuat harga energi global bergerak sangat volatile sejak dimulai pada 28 Februari 2026 lewat serangan AS dan Israel.

Selat Hormuz masih menjadi titik utama perhatian pasar minyak. Jalur sempit ini merupakan salah satu rute pelayaran minyak paling penting di dunia, sehingga gangguan keamanan di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan global.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya membantah laporan media pemerintah Iran yang menyebut Iran dan Oman akan mengelola pelayaran melalui Selat Hormuz secara bersama sebagai bagian dari kesepakatan damai. Trump menegaskan jalur tersebut akan tetap terbuka.

Sebelumnya, AS juga melakukan serangan yang disebut sebagai serangan defensif terhadap Iran pada Senin. Iran menilai langkah itu sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang masih rapuh.

Target AS saat itu mencakup kapal yang disebut mencoba memasang ranjau dan lokasi peluncuran rudal. Menurut Komando Pusat militer AS, target tersebut mengancam pasukan AS.

Kondisi ini membuat harga minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Di satu sisi, pasar masih berharap negosiasi AS-Iran bisa membuka jalan menuju kesepakatan damai dan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Namun, di sisi lain, serangan baru AS menunjukkan risiko eskalasi belum benar-benar hilang. Bagi pasar minyak, setiap gangguan di sekitar Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga karena arus pasokan global bisa ikut terganggu.

Dengan situasi yang masih tidak pasti, harga minyak berpeluang tetap bergerak volatile dalam jangka pendek. Pelaku pasar akan mencermati kelanjutan negosiasi AS-Iran, respons Teheran terhadap serangan terbaru, serta keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |