Gebrakan Baru Trump: Normalisasi Israel Jadi Syarat Damai Perang Iran?

11 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat gebrakan diplomatik di tengah upaya mengakhiri perang dengan Iran. Kali ini, Trump mengaitkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran dengan dorongan normalisasi hubungan negara-negara Muslim terhadap Israel melalui Kesepakatan Abraham.

Dalam pernyataannya di Truth Social pada Senin waktu setempat, Trump mengaku telah meminta Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania untuk bergabung secara massal dalam Kesepakatan Abraham (Abraham Accords), yakni serangkaian perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel yang mulai dibentuk pada 2020.

"Saya dengan tegas meminta agar semua negara segera menandatangani Kesepakatan Abraham, dan jika Iran menandatangani perjanjiannya dengan saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, akan menjadi suatu kehormatan bagi saya untuk menjadikan mereka juga bagian dari Koalisi Dunia yang tak tertandingi ini," tulis Trump, seperti dikutip Reuters, Selasa (26/5/2026).

Trump mengatakan dirinya telah berbicara dengan para pemimpin negara-negara tersebut pada Sabtu lalu. Termasuk dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain yang sebelumnya telah lebih dulu menormalisasi hubungan dengan Israel.

Langkah Trump dinilai sebagai upaya memperluas agenda geopolitik AS di Timur Tengah. Bukan hanya menghentikan konflik dengan Iran, tetapi juga membangun blok diplomatik baru yang lebih dekat dengan Israel.

Namun, strategi tersebut langsung menuai resistensi, terutama dari Pakistan. Sumber pemerintah Pakistan yang mengetahui pembicaraan itu mengatakan isu perang Iran dan normalisasi hubungan dengan Israel tidak bisa disatukan.

"Kedua isu tersebut tidak saling terkait dan tidak dapat dibuat demikian," kata sumber tersebut. "Pakistan tidak berkewajiban untuk mematuhi tuntutan semacam itu."

Hingga kini, belum ada respons terbuka dari Arab Saudi, Qatar, Turki, Mesir, maupun Yordania. Meski demikian, peluang respons positif dinilai kecil mengingat sentimen publik di negara-negara Muslim terhadap Israel masih sangat negatif akibat operasi militer Israel di Gaza.

Bagi Arab Saudi, isu pengakuan terhadap Israel bahkan dinilai sangat sensitif. Selain menyangkut geopolitik kawasan, Riyadh juga memegang status sebagai penjaga dua kota suci umat Islam, Mekah dan Madinah.

Selama ini, posisi resmi Arab Saudi tetap sama: normalisasi hubungan dengan Israel hanya bisa dilakukan jika terdapat peta jalan jelas menuju pembentukan negara Palestina.

Sementara itu, Mesir dan Yordania sebenarnya sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sejak lama. Adapun Turki juga memiliki hubungan resmi dengan Israel, meski hubungan tersebut memburuk sejak perang Gaza pecah.

Trump sendiri mengklaim negosiasi dengan Iran berjalan positif, walaupun belum memberikan tanda-tanda kesepakatan final akan segera tercapai.

Kesepakatan Abraham sendiri pertama kali diteken pada masa pemerintahan Trump pada 2020. Saat itu, UEA dan Bahrain menjadi negara Arab pertama dalam seperempat abad yang mengakui Israel. Setelah itu, Maroko dan Sudan ikut bergabung dalam normalisasi hubungan tersebut.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |