Boeing 787 Jatuh Tewaskan 260 Penumpang, Misteri Menyelimuti

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Investigasi mengenai kecelakaan maut maskapai Air India yang menewaskan 260 orang pada tahun lalu dipastikan belum akan membuahkan hasil akhir. Menjelang peringatan satu tahun tragedi jatuhnya pesawat Boeing 787 tersebut, otoritas India dilaporkan hanya akan merilis laporan sementara, bukan laporan final.

Mengutip Reuters, Selasa (26/5/2026), seorang sumber yang memiliki pengetahuan langsung mengenai masalah ini membeberkan arah penyelidikan yang sedang berjalan. Dirinya memaparkan bahwa dokumen yang sedang dipersiapkan oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB) akan mengupas indikasi penyebab utama secara lebih mendalam.

"Laporan sementara dari AAIB akan menjadi lebih komprehensif daripada laporan pendahuluan yang dikeluarkan Juli lalu dan akan memeriksa kemungkinan penyebab utama serta faktor-faktor kontribusi lainnya," kata sumber tersebut.

Tragedi yang tercatat sebagai bencana penerbangan paling mematikan dalam satu dekade terakhir ini bermula ketika pesawat tipe Dreamliner tersebut lepas landas dari Ahmedabad menuju London pada 12 Juni 2025. Berdasarkan laporan pendahuluan setebal 15 halaman, sakelar bahan bakar mesin pesawat tiba-tiba berpindah posisi hampir secara bersamaan, sehingga memutus aliran bahan bakar dan membuat mesin mati mendadak tidak lama setelah mengudara.

Rekaman dialog di kokpit antara kedua pilot memperkuat penilaian awal dari pejabat Amerika Serikat (AS) yang menduga bahwa sang kapten sengaja memutus aliran bahan bakar ke mesin pesawat. Namun, pihak AAIB pada saat itu langsung mengeluarkan pernyataan resmi untuk meredam spekulasi.

"Terlalu dini untuk mengambil kesimpulan pasti," tulis pihak AAIB saat itu.

Melalui keputusan merilis laporan sementara ini, otoritas India tidak diwajibkan untuk membagikan temuan mereka lebih awal kepada Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB). NTSB sendiri terlibat dalam investigasi ini karena pesawat tersebut dirancang dan diproduksi di AS. Jika menggunakan laporan final, NTSB berhak memberikan komentar dan hasilnya dapat memberikan kepastian hukum serta ketenangan bagi keluarga korban tewas.

Sumber tersebut kembali menegaskan bahwa rumitnya kasus kecelakaan pesawat ini menjadi alasan utama mengapa dokumen final belum bisa diselesaikan dalam waktu dekat.

"Laporan final tidak akan siap pada peringatan setahun kecelakaan karena ini adalah investigasi yang sangat kompleks dan membutuhkan waktu," tutur sumber itu seraya menambahkan bahwa laporan sementara masih harus diserahkan kepada otoritas pemerintah dan waktu perilisan laporan final masih belum jelas.

Senada dengan pernyataan tersebut, sumber kedua yang mengetahui jalannya penyelidikan juga menyatakan bahwa tim investigator masih terus bekerja dan membutuhkan waktu tambahan. Berdasarkan aturan internasional, laporan final kecelakaan pesawat idealnya harus diserahkan dalam jangka waktu satu tahun setelah kejadian, namun jika penyusunan memakan waktu lebih lama, maka pernyataan sementara wajib dikeluarkan pada setiap hari peringatan kecelakaan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak AAIB, Kementerian Penerbangan Sipil India, serta manajemen Air India tidak merespons email permintaan wawancara. Kepala AAIB GVG Yugandhar juga tidak menjawab panggilan telepon dan pesan singkat yang dikirimkan.

Konsultasi Internasional

Badan penerbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Civil Aviation Organization (ICAO), menetapkan adanya proses konsultasi dengan negara-negara peserta untuk draf laporan final, dengan masa komentar biasanya selama 30 hari dan dapat diperpanjang hingga 60 hari. Kendati demikian, aturan ketat mengenai proses konsultasi semacam ini tidak berlaku untuk penerbitan laporan sementara.

Pihak ICAO yang berbasis di Montreal beserta NTSB selaku pendukung penyelidikan menolak memberikan komentar resmi. Sementara itu, pihak Boeing yang bertindak sebagai penasihat teknis dalam investigasi ini memilih untuk mengarahkan pertanyaan media langsung kepada AAIB.

Keterlambatan rilis laporan final seperti ini bukan pertama kalinya terjadi dalam dunia penerbangan global. Dalam kasus kecelakaan Ethiopian Airlines 737 MAX pada Maret 2019 silam, penyelidik Ethiopia merilis laporan sementara yang terperinci dalam waktu satu tahun, namun baru mengeluarkan laporan final pada Desember 2022 meskipun NTSB telah menerima salinan drafnya sejak Januari 2021 yang kemudian memicu kritik publik dari pihak AS.

Insiden Serupa

Persiapan laporan sementara Air India ini berjalan di tengah penyelidikan terpisah yang sedang berlangsung mengenai dugaan kerusakan sakelar bahan bakar. Indikasi cacat produksi ini dilaporkan oleh pilot penerbangan Air India Dreamliner rute London menuju Bengaluru pada bulan Februari tahun ini.

Dalam insiden tersebut, pilot mendapati bahwa sakelar bahan bakar tidak mau tetap berada di posisi hidup (run) pada dua kali upaya pertama ketika diberikan tekanan vertikal ringan saat menyalakan mesin. Sakelar baru bisa stabil pada upaya ketiga sebelum pesawat akhirnya lepas landas, dan kejadian ini langsung dilaporkan pilot setelah mendarat di India.

Menanggapi laporan sensitif tersebut, para pejabat dari regulator penerbangan India, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA), berencana terbang ke Seattle pada bulan Juni mendatang. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau langsung pengujian sakelar yang dilakukan oleh Boeing, setelah sebelumnya pejabat India sempat menyebut komponen tersebut sangat sensitif dalam email rahasia.

Rencana kunjungan kerja ini kembali menyoroti masalah sakelar bahan bakar yang menjadi poin sentral dalam investigasi kecelakaan fatal tahun lalu. Sumber pertama mengungkapkan bahwa rencana perjalanan mendadak dari DGCA ke markas Boeing ini sempat luput dari radar tim penyelidik kecelakaan pesawat.

"Beberapa investigator yang terlibat dalam penyelidikan kecelakaan Air India tidak mengetahui rencana kunjungan DGCA ke Seattle," jelas sumber pertama tersebut.

Terkait insiden sakelar di London tersebut, pihak Boeing menyatakan bahwa perusahaan tengah memberikan dukungan penuh kepada Air India. Di sisi lain, otoritas penerbangan Inggris yang juga ikut menyelidiki insiden di London tersebut menyatakan bahwa tinjauan mereka masih terus berjalan, sementara pihak DGCA India memilih bungkam saat dimintai keterangan.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |