AS dan Iran Ugal-ugalan Lagi, Pasar Saham Dunia Rontok Berjemaah

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan pasar global terhadap meredanya perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali runtuh setelah bentrokan baru di Selat Hormuz memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham dunia pada Jumat (8/5/2026). Ketegangan terbaru itu juga mengguncang optimisme investor yang sebelumnya percaya kesepakatan damai semakin dekat dan jalur pelayaran minyak dunia segera kembali normal.

Pasar keuangan global sebenarnya menikmati reli cukup kuat sepanjang pekan ini di tengah keyakinan bahwa konflik selama 10 minggu terakhir akan segera berakhir. Sentimen positif tersebut sempat mendorong penguatan saham global meski harga minyak melonjak tajam akibat perang.

Namun suasana berubah setelah muncul laporan bahwa pasukan AS menyerang target militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal perusak AS di Selat Hormuz. Insiden itu disebut mengancam gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar satu bulan.

Di sisi lain, komando militer pusat Iran menuduh Washington melanggar gencatan senjata dengan menyerang sebuah kapal tanker minyak dan kapal lainnya.

Presiden Donald Trump kemudian memperkeras retorikanya melalui platform Truth Social.

"Kami akan menjatuhkan mereka dengan cara yang jauh lebih keras dan lebih brutal di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu!" tulis Trump.

Meski demikian, ketika ditanya di Washington apakah gencatan senjata masih berlaku, Trump menjawab singkat, "Ya, memang benar. Mereka mempermainkan kami hari ini. Kami menghancurkan mereka."

Bentrok terbaru itu terjadi hanya sehari setelah Trump mengatakan peluang tercapainya kesepakatan damai cukup besar. Saat ini Teheran tengah mempertimbangkan proposal satu halaman dari AS untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Laporan The Wall Street Journal juga menyebut Gedung Putih tengah mempertimbangkan untuk kembali menjalankan operasi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz. Operasi yang disebut "Project Freedom" itu sebelumnya dihentikan Trump hanya sehari setelah diumumkan awal pekan ini.

Project Freedom memicu kemarahan Iran dan disebut menjadi salah satu pemicu serangan Teheran terhadap United Arab Emirates.

Bursa Asia hingga Eropa Kacau Balau

Ketegangan baru tersebut langsung memukul pasar saham global pada perdagangan Jumat.

Bursa di Tokyo, Hong Kong, Sydney, Singapore, Mumbai, Bangkok, Taipei, Manila hingga Jakarta tercatat melemah dengan angka penurunan bervariasi hingga di atas 1%. Bursa Shanghai bergerak datar, sementara Seoul masih melanjutkan reli hingga mencetak rekor tertinggi baru.

Di Eropa, pasar saham di London, Paris, dan Frankfurt juga ditutup di zona merah.

Penurunan itu mengikuti koreksi di S&P 500 dan Nasdaq di Wall Street setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Meski begitu, analis menilai aksi ambil untung memang wajar terjadi setelah reli besar dalam beberapa waktu terakhir.

"Sekali lagi, arus berita di bidang geopolitik telah menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan yang langgeng sama sekali tidak lurus," kata analis Pepperstone, Chris Weston, dilansir AFP.

"Para pedagang harus mempertimbangkan kembali asumsi tentang arah konflik dan normalisasi arus kapal melalui Hormuz yang telah dibuat selama beberapa sesi terakhir," imbuhnya.

Harga Minyak Naik Lagi

Harga minyak yang sebelumnya turun sekitar 10% dalam tiga hari terakhir kembali bergerak naik pada Jumat, meski penguatannya tidak sebesar lonjakan awal perdagangan.

Pasar energi masih sensitif terhadap setiap perkembangan di Selat Hormuz karena jalur tersebut merupakan titik vital distribusi minyak global. Penutupan atau gangguan di kawasan itu dapat langsung mengganggu rantai pasok energi dunia dan memicu kenaikan harga bahan bakar internasional.

Selain perang, perhatian investor juga tertuju pada data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat waktu setempat. Data tersebut dinantikan untuk melihat dampak perang dan kenaikan harga terhadap ekonomi AS.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |