Amerika Beri 'Kado' Jelang HUT ke-250, IHSG-Rupiah Bisa Senyum Bareng

3 weeks ago 12
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam kemarin, rupiah melemah sementara bursa saham menguat
  • Wall Street juga ditutup beragam
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin. Rupiah melemah sementara bursa saham menguat tipis.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada akhir pekan ini.  Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas sebagian penguatannya pada akhir perdagangan Kamis (2/7/2026). Setelah sempat melesat lebih dari 1%, IHSG akhirnya ditutup naik 0,87% atau 49,44 poin ke level 5.744,56.

Kenaikan indeks ditopang oleh 395 saham yang menguat, sementara 169 saham melemah dan 219 saham bergerak stagnan. Meski demikian, aktivitas perdagangan masih relatif sepi dengan nilai transaksi Rp11,1 triliun dan volume 20,6 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi.

Asing mencatat net sell sebesar Rp 237,87 miliar.

Penguatan IHSG terutama ditopang sektor bahan baku yang naik 2,22%, disusul industri 1,78%, konsumer non-primer 1,74%, dan finansial 1,67%.

Saham-saham bank berkapitalisasi besar menjadi motor utama pergerakan indeks. Nilai transaksi Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) mencapai Rp5,28 triliun atau hampir separuh total transaksi bursa. 

Penguatan IHSG terjadi di tengah sejumlah sentimen domestik yang kurang kondusif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, defisit pertama sejak April 2020, setelah ekspor sebesar US$23,20 miliar lebih rendah dibanding impor US$24,81 miliar.

Di sisi lain, BPS juga mencatat inflasi Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan, dengan inflasi tahun kalender sebesar 1,79% dan inflasi tahunan 3,34%, lebih tinggi dibanding inflasi bulanan Mei yang sebesar 0,28%.

Beralih ke pasar valas, rupiah kembali menutup perdagangan di zona merah pada Kamis (2/7/2026), meski dolar Amerika Serikat (AS) justru melemah di pasar global.

Berdasarkan Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,32% ke level Rp17.988/US$, semakin mendekati ambang psikologis Rp18.000/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp17.960-17.995/US$, sementara indeks dolar AS (DXY) melemah 0,21% ke level 101,177.

Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen domestik, terutama setelah Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.

Defisit tersebut merupakan yang pertama sejak April 2020, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Defisit terjadi karena ekspor sebesar US$23,20 miliar lebih rendah dibanding impor yang mencapai US$24,81 miliar.

Ekonom Senior Radhika Rao menilai belum adanya penyesuaian harga BBM domestik, tingginya harga minyak global, serta pelemahan rupiah telah membebani neraca perdagangan.

Menurutnya, ekspor turun sekitar 5% secara tahunan akibat melemahnya pengiriman minyak sawit, besi dan baja, serta mesin, meski ekspor nikel masih bertahan kuat. Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik yang mendorong penurunan harga minyak dunia pada Juni diperkirakan dapat mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia mulai kuartal III-2026.

 Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,153% pada perdagangan kemarin

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |